Jennifer Lopez Menyesal Terlambat Menjadi Single: 'Saya Harus Melakukannya Lebih Cepat'
Baca dalam 60 detik
- Jennifer Lopez mengaku di acara Jimmy Kimmel Live! bahwa ia seharusnya menjadi single lebih awal setelah perceraiannya dengan Ben Affleck.
- Pelantun 'On The Floor' itu kini menikmati masa lajang dan menyebutnya sebagai 'era bahagia' setelah setahun penuh introspeksi.
- Pernyataan ini memicu diskusi tentang tekanan sosial terhadap wanita untuk selalu dalam hubungan, relevan dengan tren kesadaran kesehatan mental di Indonesia.

Jennifer Lopez, aktris dan penyanyi berusia 56 tahun, secara blak-blakan mengakui bahwa ia menunda terlalu lama untuk mengakhiri pernikahannya dengan Ben Affleck. Dalam wawancara di acara Jimmy Kimmel Live!, Lopez menyatakan, "Saya seharusnya melakukannya lebih cepat. Selama ini saya melakukan semuanya dengan cara yang salah." Pengakuan ini menjadi sorotan publik karena menunjukkan perubahan besar dalam pandangan hidup sang diva pasca-perceraian.
Lopez dan Affleck, yang pertama kali bertemu di lokasi syuting film Gigli pada awal 2000-an, kembali menjalin hubungan pada 2021 dan menikah setahun kemudian. Namun, pernikahan mereka hanya bertahan dua tahun. Kini, Lopez mengaku menikmati masa lajang yang selama ini ia hindari. "Ini luar biasa. Saya tidak akan melakukan apa pun untuk merusak perasaan saya saat ini," ujarnya saat ditawari tampil di acara kencan The Bachelorette.
Dalam wawancara terpisah dengan Nightline, Lopez menyebut dirinya berada di "era bahagia" untuk pertama kalinya dalam hidupnya. "Saya merasa bebas, sendirian, dan itu terasa sangat baik. Saya tidak benar-benar tahu bagaimana rasanya sejak usia 20-an," katanya. Ia mengakui bahwa selama ini ia selalu memiliki pasangan dan merasa banyak hal di luar kendalinya. Kini, ia lebih percaya pada diri sendiri dan tidak lagi terlalu keras pada dirinya.
Lopez, yang memiliki anak kembar Max dan Emme dari pernikahan sebelumnya dengan Marc Anthony, mengaku mengambil cuti setahun setelah perceraiannya dengan Affleck. "Saya membatalkan tur dan memutuskan untuk tinggal di rumah, merenungkan apa yang terjadi tanpa melarikan diri melalui pekerjaan atau orang lain," jelasnya. Langkah ini dinilai sebagai bentuk terapi yang membantunya memproses emosi secara lebih sehat.
Pernyataan Lopez ini menarik perhatian di Indonesia, di mana tekanan sosial untuk menikah atau tetap dalam hubungan kerap dialami, terutama oleh wanita. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Dewi Puspita, menilai bahwa pengakuan Lopez mencerminkan pergeseran kesadaran akan pentingnya kebahagiaan individu. "Banyak orang, terutama wanita, merasa terjebak dalam hubungan yang tidak sehat karena takut sendirian atau stigma sosial. Kasus Lopez bisa menjadi contoh bahwa memilih sendiri bukanlah kegagalan, melainkan bentuk keberanian," ujarnya.
Di tengah tren peningkatan kesadaran kesehatan mental di Indonesia, kisah Lopez mengingatkan bahwa istirahat dan introspeksi adalah langkah penting. Ia menegaskan bahwa ia terbuka untuk menemukan cinta lagi, tetapi hanya jika pasangannya "cukup baik" untuknya. "Saya akan bertemu seseorang suatu hari nanti, jika mereka cukup baik. Tapi untuk saat ini, saya baik-baik saja dengan keadaan saya," pungkasnya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren 'single happiness' seperti yang dijalani Lopez akan semakin diterima di masyarakat Indonesia yang masih kuat memegang nilai pernikahan? Ataukah ini hanya fenomena selebritas yang sulit ditiru? Yang jelas, Lopez telah membuka ruang diskusi tentang pilihan hidup yang lebih beragam.



