Kasta Kedua, Tampil di Eropa: Torreense Ukir Sejarah Usai Kalah di Play-off
Baca dalam 60 detik
- Torreense, juara Piala Portugal 2025, dipastikan berlaga di Liga Europa musim depan meski gagal promosi ke divisi utama.
- Klub asal kota kecil Torres Vedras itu akan bermarkas di Stadion Algarve, 310 km dari kandang asli, karena venue mereka tak memenuhi standar UEFA.
- Fenomena klub divisi dua tampil di kompetisi Eropa bukan hal baru; sejumlah klub seperti Wigan Athletic dan Birmingham City pernah mengalaminya.

Kisah unik datang dari Portugal: Torreense, klub yang baru saja menjuarai Piala Portugal untuk pertama kalinya dalam 109 tahun sejarah, harus menerima kenyataan pahit gagal promosi ke Liga Portugal. Namun, kekalahan di final play-off justru membuka pintu Eropa bagi mereka. Torreense akan menjadi salah satu dari sedikit klub divisi dua yang berlaga di Liga Europa musim 2026-27.
Kemenangan dramatis 2-1 atas Sporting CP di final Piala Portugal pada Minggu (25/5) lalu menjadi tiket emas Torreense ke fase liga Liga Europa. Namun, kegembiraan itu harus dibayar mahal. Hanya berselang beberapa hari, tim asal kota Torres Vedras—sekitar 40 km utara Lisbon—harus mengakui keunggulan Casa Pia dengan skor agregat 0-2 di play-off promosi. Casa Pia, yang finis di peringkat ke-16 Liga Portugal, berhasil mempertahankan statusnya di divisi utama.
Konsekuensinya, Torreense akan menjadi klub divisi dua yang berlaga di kompetisi antarklub elite Eropa. Stadion kandang mereka yang hanya berkapasitas 2.500 penonton tidak memenuhi standar UEFA. Alhasil, Torreense harus memainkan laga kandangnya di Stadion Algarve, Faro, yang berjarak 310 km dari Torres Vedras. Sebuah perjalanan panjang yang pasti menguras tenaga dan biaya.
Fenomena klub divisi bawah berlaga di Eropa sebenarnya bukan cerita baru. Dalam sejarah, beberapa klub pernah mengalaminya. Wigan Athletic, misalnya, menjuarai Piala FA 2013 lalu terdegradasi dari Premier League hanya berselang beberapa hari. Mereka pun berlaga di Liga Europa musim berikutnya, meski hanya meraih satu kemenangan dari enam pertandingan grup. Birmingham City juga mengalami nasib serupa setelah menjuarai Piala Liga Inggris 2011 dan terdegradasi di musim yang sama.
Di luar Inggris, ada FC Zurich yang finis di dasar klasemen Liga Super Swiss 2015-16 namun lolos ke Liga Europa berkat gelar Piala Swiss. Juga ada Millwall yang kalah di final Piala FA 2004 dari Manchester United, tetapi tetap lolos ke Piala UEFA karena sang lawan sudah dipastikan lolos ke Liga Champions. Torreense pun bergabung dalam daftar eksklusif ini.
Bagi sepak bola Indonesia, kisah Torreense memberikan perspektif menarik. Di Indonesia, klub-klub Liga 2 atau bahkan Liga 3 nyaris mustahil berlaga di level Asia karena keterbatasan infrastruktur dan regulasi. Namun, keberhasilan Torreense membuktikan bahwa kemenangan di kompetisi domestik bisa membuka peluang internasional, meski harus berkorban jauh dari kandang. Ini menjadi pelajaran berharga bagi federasi dan klub di Tanah Air untuk terus meningkatkan kualitas kompetisi dan fasilitas.
Torreense bukan satu-satunya klub divisi dua yang akan berlaga di Eropa musim depan. Vestri, klub asal Islandia yang berbasis di desa berpenduduk kurang dari 3.000 jiwa, juga akan tampil di babak kualifikasi pertama Liga Europa setelah menjuarai Piala Islandia. Sementara itu, FC Vaduz dari Liechtenstein—yang biasa bermain di kasta kedua Swiss—kembali lolos ke Eropa setelah menjuarai Piala Liechtenstein untuk ke-22 kalinya dalam 23 edisi terakhir. Namun, musim depan Vaduz akan bermain di divisi utama Swiss setelah menjadi juara Challenge League.
Pertanyaan besarnya, sejauh mana Torreense mampu bersaing di panggung Eropa? Dengan keterbatasan finansial dan logistik, mereka menghadapi tantangan berat. Namun, semangat underdog selalu punya daya tarik tersendiri. Akankah Torreense menjadi kejutan berikutnya, atau hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah sepak bola Eropa? Waktu yang akan menjawab.



