Sheika Scott: Sang Pemimpin Muda yang Ingin Bawa Kosta Rika ke Puncak Dunia
Baca dalam 60 detik
- Sheika Scott akan tampil di Piala Dunia U-20 Wanita ketiganya pada September 2025 di Polandia, sebuah pencapaian langka di usianya yang baru 19 tahun.
- Pemain Paris FC itu menjadi pemain termuda Kosta Rika yang tampil di Piala Dunia Wanita senior pada 2023, dan kini menjadi tulang punggung tim U-20.
- Scott bertekad memutus puasa kemenangan Kosta Rika di Piala Dunia U-20, dengan pengalaman dan kepemimpinannya menjadi kunci di skuad Ticas.
Sheika Scott, gelandang serang Kosta Rika berusia 19 tahun, akan menjadi salah satu pemain paling berpengalaman di Piala Dunia U-20 Wanita 2025 di Polandia—meski usianya masih sangat muda. Ini akan menjadi partisipasi ketiganya di turnamen level usia tersebut, sebuah prestasi langka yang hanya dicapai segelintir pemain di dunia. Bagi Scott, ini bukan sekadar ajang unjuk gigi, melainkan misi untuk mengukir sejarah: memenangkan pertandingan pertama Kosta Rika di turnamen ini.
Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, Scott mengungkapkan antusiasmenya yang membara. “Saya sangat bahagia dan bersyukur. Saya ingin Piala Dunia dimulai hari ini,” ujarnya. Pemain yang kini memperkuat Paris FC di Prancis itu menegaskan bahwa kebersamaan tim menjadi kekuatan utama. “Kami sudah bersama sejak kecil. Ada 4-5 pemain dari kelompok usia 2006 yang masih bertahan sejak Piala Dunia Kolombia 2024. Saya sudah tidak sabar.”
Scott menyadari bahwa tekanan akan lebih besar di Polandia. Ia bertekad menjadi mentor bagi rekan-rekannya yang baru pertama kali merasakan atmosfer Piala Dunia. “Saya bisa membantu mereka secara mental. Saya tahu rasanya berada di Piala Dunia. Saya akan bilang pada mereka untuk tenang dan menikmati. Ini pengalaman terindah,” katanya. Ia juga menekankan target tim: “Kami termotivasi untuk memenangkan pertandingan Piala Dunia. Kami ingin menang.”
Perjalanan Scott tidak selalu mulus. Setelah pindah ke Paris FC, ia harus beradaptasi dengan bahasa dan cuaca yang sangat berbeda. “Awalnya sulit karena bahasa dan cuaca dingin. Tapi setelah beberapa waktu saya bisa beradaptasi,” kenangnya. Kini, ia merasa perkembangan fisik dan mentalnya melesat berkat kompetisi Eropa yang lebih ketat. “Sepak bola di sini levelnya berbeda dibandingkan di Kosta Rika. Saya banyak berubah, secara fisik dan mental.”
Bagi Indonesia, kisah Scott menjadi cermin bagaimana pembinaan usia dini dan keberanian bermain di luar negeri dapat melahirkan pemain berkualitas. Timnas putri Indonesia masih dalam tahap pengembangan, dan contoh seperti Scott menunjukkan pentingnya pengalaman internasional sejak muda. Jika Indonesia ingin bersaing di level Asia, langkah serupa—mengirim pemain muda ke kompetisi Eropa—bisa menjadi strategi jangka panjang yang patut dipertimbangkan.
Scott juga menyoroti target jangka panjang: lolos ke Piala Dunia Wanita senior 2027 yang rencananya digelar di Brasil. “Kami sangat termotivasi. Brasil adalah negara sepak bola sejati, dan kami berharap bisa sampai ke sana,” ucapnya. Dengan semangat dan pengalaman yang dimilikinya, bukan tidak mungkin Scott akan menjadi ikon baru sepak bola wanita Kosta Rika, sekaligus inspirasi bagi generasi muda di seluruh dunia.
Pertanyaan besarnya: mampukah Scott dan timnya memecahkan kebuntuan kemenangan di Polandia? Atau justru tekanan akan menjadi batu sandungan? Semua akan terjawab saat turnamen bergulir pada September mendatang.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1709217/original/053011300_1505306594-Timnas-Indonesia-U-197.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530038/original/071918600_1773390026-Stadion_Teladan_Medan_Diskominfo.jpg)