Reddit Mengungkap Pergeseran Besar: ADHD dan Autism Kini Dominasi Diskusi Kesehatan Mental
Baca dalam 60 detik
- Analisis terhadap 14 juta unggahan Reddit menunjukkan perbincangan tentang ADHD dan autisme melonjak, menggantikan depresi dan kecemasan sebagai topik utama.
- Pergeseran ini mencerminkan pengaruh media sosial dalam membentuk persepsi publik, namun juga memicu kekhawatiran akan misdiagnosis dan informasi yang menyesatkan.
- Fenomena serupa diperkirakan terjadi di Indonesia, di mana platform seperti TikTok dan Instagram turut mendorong kesadaran sekaligus risiko self-diagnosis yang keliru.

Media sosial telah mengubah cara masyarakat memahami kesehatan mental, dan data terbaru dari Reddit mengonfirmasi pergeseran yang mencolok: perbincangan tentang ADHD dan autisme kini mendominasi, menggusur depresi dan kecemasan yang sebelumnya menjadi topik utama. Sebuah studi yang menganalisis lebih dari 14 juta unggahan dan komentar di platform tersebut mengungkap transformasi radikal dalam lanskap diskusi kesehatan mental hanya dalam kurun waktu tujuh tahun.
Peneliti dari sejumlah universitas di Australia dan Inggris meneliti 14 komunitas Reddit (subreddit) yang membahas berbagai kondisi, mulai dari gangguan suasana hati, kecemasan, trauma, hingga spektrum neurodivergen seperti autisme, ADHD, Tourette syndrome, dan disleksia. Mereka memetakan perubahan ukuran komunitas, keterkaitan antaranggota, serta kesamaan bahasa yang digunakan dari 2015 hingga 2022. Hasilnya, pada 2015, depresi dan kecemasan menjadi pusat jaringan diskusi. Namun pada 2022, ADHD dan autisme telah mengambil alih posisi sentral tersebut, baik dari segi jumlah anggota maupun pengaruh dalam percakapan.
“Kami melihat pergeseran yang jelas: gangguan mood dan kecemasan dulu mendominasi, namun kini kondisi neurodivergen menjadi pusat perhatian,” ujar Dr. Tariq Chatur, salah satu penulis studi dari University of Melbourne, dalam pernyataan yang dikutip dari The Conversation. Ia menambahkan bahwa perubahan ini tidak hanya mencerminkan tren, tetapi juga membentuk cara orang mengidentifikasi dan mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental.
Fenomena ini tidak lepas dari peran media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube yang mempopulerkan istilah neurodivergen. Konten tentang ADHD dan autisme sering kali viral, mendorong banyak orang untuk mengenali gejala yang mungkin mereka alami. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa peningkatan visibilitas ini memiliki sisi gelap. Sebuah studi sebelumnya menemukan bahwa sebagian besar video TikTok populer tentang ADHD mengandung informasi yang menyesatkan. Misinformasi semacam ini dapat mendorong self-diagnosis yang tidak akurat, yang berujung pada pengobatan yang salah atau keterlambatan penanganan yang tepat.
Di Indonesia, pergeseran serupa mulai terlihat. Platform seperti TikTok dan Instagram dipenuhi konten tentang ADHD dan autisme, sering kali dibagikan oleh kreator lokal. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Ratna Djuwita, menilai bahwa tren ini memiliki dampak ganda. “Di satu sisi, kesadaran masyarakat meningkat, terutama di kalangan anak muda. Namun, banyak yang kemudian mendiagnosis diri sendiri tanpa konsultasi profesional, yang berbahaya karena gejala bisa tumpang tindih dengan kondisi lain,” jelasnya. Ia mencontohkan, kesulitan konsentrasi bisa disebabkan oleh ADHD, tetapi juga oleh kecemasan atau kurang tidur.
Studi Reddit juga menemukan bahwa komunitas ADHD dan autisme semakin tumpang tindih, baik dari segi anggota maupun topik diskusi. Keduanya sama-sama menyoroti pengalaman dewasa, kesulitan mengakses asesmen diagnostik, dan masalah hubungan personal. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga membentuk representasi baru tentang kondisi mental. “Ketika dua kondisi semakin sering dibahas bersama, orang cenderung menganggapnya sebagai satu paket, padahal masing-masing memiliki kriteria diagnostik yang berbeda,” kata Dr. Chatur.
Implikasi dari pergeseran ini sangat luas. Di satu sisi, meningkatnya perhatian pada ADHD dan autisme dapat membantu orang yang sebelumnya tidak menyadari kondisi mereka untuk mencari diagnosis yang tepat. Namun di sisi lain, hal ini juga berisiko membuat gangguan lain seperti depresi, kecemasan, atau gangguan kepribadian terabaikan. Tekanan pada layanan kesehatan mental pun bertambah, karena banyak orang datang dengan keyakinan bahwa mereka mengidap ADHD atau autisme, padahal mungkin membutuhkan penanganan yang berbeda.
Ke depan, para ahli menekankan pentingnya literasi kesehatan mental di era digital. Masyarakat perlu diedukasi untuk tidak serta-merta mempercayai konten media sosial, dan selalu melakukan konsultasi dengan tenaga profesional. Platform media sosial juga diharapkan lebih bertanggung jawab dalam menyajikan informasi kesehatan mental yang akurat. Pertanyaannya, akankah tren ini mendorong perbaikan akses diagnosis dan terapi, atau justru memperparah kebingungan dan misdiagnosis di kalangan pengguna?



