Blok M Bangkit Lagi: Bukan Sekadar Pusat Belanja, Melainkan Ruang Temu Generasi Baru
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI Jakarta merevitalisasi Blok M dengan mengintegrasikan transportasi publik dan ruang kreatif, menjadikannya episentrum baru aktivitas urban.
- Kehadiran MRT, TransJakarta, dan ruang publik seperti M Bloc Space mendorong lonjakan pengunjung, terutama dari kalangan muda.
- Revitalisasi ini diharapkan menggerakkan ekonomi lokal dan menghidupkan kembali pusat kota bersejarah tanpa mengabaikan ketertiban dan kenyamanan warga.

Setelah nyaris kehilangan pamor selama lebih dari satu dekade, kawasan Blok M di Jakarta Selatan kembali menjadi pusat gravitasi perkotaan. Bukan semata karena pusat perbelanjaan yang bergeliat, melainkan karena transformasinya menjadi simpul transportasi dan ruang kreatif yang menyedot animo warga, khususnya generasi muda.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, saat meresmikan New M Bloc Space pada Oktober 2025, mengungkapkan bahwa hampir seluruh moda transportasi publik kini berujung di Blok M. Dari enam rute Transjabodetabek yang baru diluncurkan, tiga di antaranya—Alam Sutera–Blok M, PIK 2–Blok M, dan Ancol–Blok M—secara khusus dirancang untuk mendukung vitalitas kawasan tersebut. Integrasi dengan MRT dan puluhan jalur TransJakarta menjadikan Blok M titik transit paling terhubung di Jakarta.
Menurut Pramono, revitalisasi ini sejalan dengan visi Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan ramah komunitas kreatif. M Bloc Space, yang dirancang sebagai ruang terbuka bagi ekspresi seni dan kolaborasi, telah menjadi panggung bagi festival musik, pameran seni, dan kegiatan UMKM. Dampak sosial-ekonominya terlihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara, serta munculnya lapangan usaha baru di sekitar kawasan.
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Ali Lubis, menilai bahwa nilai historis dan lokasi strategis Blok M menjadi alasan utama Pemprov memfokuskannya kembali. "Kawasan ini memiliki sejarah, nilai strategis yang sangat besar, baik dari sisi ekonomi, transportasi, maupun identitas urban Jakarta," ujarnya. Ia menambahkan, ketika akses transportasi dan fasilitas pejalan kaki ditata dengan baik, efek ekonominya langsung terasa bagi UMKM, pelaku usaha, dan sektor pariwisata perkotaan.
Namun, Ali mengingatkan agar revitalisasi tidak hanya berorientasi pada estetika. "Jangan sampai hanya bagus secara visual, tetapi mengabaikan kemacetan, parkir liar, PKL, keamanan, maupun kenyamanan warga sekitar. Penataan harus berbasis kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi lokal," tegas politisi Partai Gerindra itu. Ia optimistis, jika dikelola serius, Blok M bisa kembali menjadi ikon kebanggaan Jakarta.
Blok M mengalami pasang surut sejak era keemasannya di 1980-an. Terminal bawah tanah dan pusat perbelanjaannya sempat mati suri akibat bergesernya pusat aktivitas ke kawasan baru. Kini, dengan hadirnya MRT, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, dan M Bloc Space, kawasan ini kembali menjadi titik kumpul favorit. Pertanyaannya, bisakah momentum ini bertahan tanpa mengorbankan ketertiban dan kenyamanan warga sekitar?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7451903/original/061567100_1780226831-WhatsApp_Image_2026-05-31_at_17.55.26.jpeg)