Satgas PRR Bangun Infrastruktur Air Bersih Permanen untuk 10.000 Rumah di Aceh
Baca dalam 60 detik
- Satgas PRR membangun SPAM Karang Baru berkapasitas 100 liter per detik yang akan melayani 10.000 rumah tangga di Aceh Tamiang, ditargetkan rampung Agustus 2026.
- Selain SPAM, telah dibangun lebih dari 1.400 titik sumur bor di tiga provinsi terdampak bencana oleh Kementerian PU, BNPB, TNI AD, dan Polri.
- Proyek ini tidak hanya bersifat darurat, tetapi dirancang sebagai solusi jangka panjang untuk ketahanan air bersih masyarakat pascabencana.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7451903/original/061567100_1780226831-WhatsApp_Image_2026-05-31_at_17.55.26.jpeg)
Pemerintah melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera tengah membangun sistem penyediaan air bersih modern di tiga provinsi terdampak bencana, dengan target melayani sekitar 10.000 rumah tangga di Aceh Tamiang melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) Baja berkapasitas 100 liter per detik.
Proyek yang dikenal dengan SPAM Karang Baru ini saat ini telah mencapai progres konstruksi sekitar 30 persen dan dijadwalkan selesai pada Agustus 2026. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo saat meninjau lokasi di Aceh Tamiang, Minggu (31/5/2026), menekankan bahwa keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada penyelesaian fisik, tetapi juga pada ketersediaan sumber air baku yang stabil sepanjang musim. "Kita harus memastikan intake-nya terjaga, baik saat sungai sedang tinggi maupun saat kemarau debitnya masih mencukupi," ujarnya.
Selain SPAM Karang Baru, Satgas PRR juga memulihkan SPAM Langkahan di Aceh Utara yang sempat lumpuh akibat banjir dan sedimentasi. Setelah penanganan darurat berhasil mengembalikan distribusi ke 1.500 sambungan rumah, pemerintah kini menyiapkan pembangunan SPAM IKK Langkahan baru berkapasitas 50 liter per detik untuk menggantikan sistem lama yang sudah kelebihan beban. Dody menambahkan bahwa pemulihan menyeluruh harus mencakup perbaikan instalasi utama dan jaringan distribusi rumah tangga yang rusak akibat lumpur. "Banyak sambungan rumah yang tertutup lumpur, bocor, atau harus diganti. Kami upayakan secepatnya agar layanan kembali normal," katanya.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya di daerah rawan bencana, proyek ini menjadi contoh penting bagaimana infrastruktur dasar dapat dibangun tidak hanya sebagai respons darurat, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang. Dengan pendekatan yang menggabungkan sumur bor cepat dan SPAM berkapasitas besar, pemerintah berupaya memastikan bahwa penyintas bencana tidak hanya mendapatkan air bersih sementara, tetapi juga akses berkelanjutan yang tahan terhadap kondisi musim dan bencana susulan. Langkah ini juga relevan mengingat Indonesia kerap menghadapi bencana hidrometeorologi yang mengganggu pasokan air bersih.
Ke depan, tantangan utama adalah memastikan seluruh proyek tepat waktu dan sesuai spesifikasi, serta melibatkan partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan. Pertanyaan yang muncul: akankah model integrasi antara sumur bor dan SPAM ini dapat direplikasi di daerah bencana lain di Indonesia, seperti Sulawesi atau Nusa Tenggara, yang juga kerap dilanda kekeringan dan banjir?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3188074/original/076513400_1595483838-20200723-Operasi-Patuh-Jaya-2020-di-Jalan-Letjen-Suprapto-Jakpus-FANANI-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5313459/original/034909400_1755001147-Screenshot_2025-08-12_184917.jpg)
