EU Tegaskan Tak Akan Jadi Mediator Netral dalam Perundingan Rusia-Ukraina
Baca dalam 60 detik
- Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menolak peran mediator netral antara Ukraina dan Rusia, menegaskan Eropa berada di pihak Ukraina.
- Pembahasan di Limassol, Siprus, berfokus pada penetapan garis merah dan syarat-syarat bagi Rusia, bukan pada siapa yang akan mewakili Eropa dalam perundingan.
- Uni Eropa tengah menyiapkan paket sanksi ke-21 terhadap Rusia, sementara Ukraina mendorong Eropa untuk memainkan peran lebih besar setelah Amerika Serikat teralihkan oleh isu Iran.

Uni Eropa menolak mentah-mentah menjadi mediator netral dalam perundingan damai antara Ukraina dan Rusia, sebuah sikap yang ditegaskan langsung oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri EU, Kaja Kallas, Kamis (28/5) di Limassol, Siprus. Penolakan ini muncul di tengah kebuntuan upaya Amerika Serikat yang teralihkan oleh krisis Iran, sementara Ukraina mendesak Eropa untuk mengambil peran lebih besar dalam proses perdamaian.
Dalam pertemuan informal para menteri luar negeri 27 negara anggota EU, Kallas menyatakan bahwa Eropa tidak bisa bersikap netral karena kepentingan keamanan inti mereka terikat dengan Ukraina. “Kami tidak bisa bersikap netral dan memperlakukan kedua pihak secara setara,” ujarnya. Pernyataan ini sekaligus membantah usulan Presiden Rusia Vladimir Putin yang mencalonkan mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder sebagai mediator—sebuah ide yang langsung ditolak mentah-mentah oleh negara-negara Eropa.
Perdebatan di Limassol tidak hanya soal siapa yang akan duduk di meja perundingan, tetapi juga tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi Rusia sebelum pembicaraan dimulai. Kallas menekankan bahwa fokus utama EU adalah menetapkan garis merah yang jelas, termasuk gencatan senjata penuh, pembatasan militer Rusia, dan penolakan terhadap pengakuan wilayah yang dicaplok. “Eropa punya tuntutan yang sah untuk memastikan perdamaian yang langgeng,” kata Kallas, seraya menambahkan bahwa para menteri telah memintanya untuk melanjutkan pekerjaan ini.
Namun, tidak semua menteri sepakat untuk menunda penunjukan perwakilan. Menteri Luar Negeri Austria, Beate Meinl-Reisinger, mendorong agar EU segera menunjuk seseorang, karena Ukraina mengharapkan kesiapan EU. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Lithuania, Kestutis Budrys, mengingatkan bahwa saat ini bukan waktunya berdebat soal perwakilan, melainkan meningkatkan tekanan pada Rusia dan bantuan untuk Ukraina.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi tersendiri. Sebagai negara yang konsisten mendorong diplomasi dan penyelesaian konflik secara damai, Indonesia dapat melihat bahwa EU mengambil sikap yang lebih tegas dibandingkan mediasi tradisional. Posisi EU yang memihak Ukraina juga mengingatkan pada prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia, yang menekankan pada penyelesaian konflik tanpa intervensi. Namun, dalam kasus ini, EU justru memilih untuk tidak netral—sebuah pendekatan yang mungkin menjadi pertimbangan bagi Indonesia dalam forum-forum multilateral seperti PBB.
Para pejabat Eropa menilai Putin saat ini dalam posisi lemah akibat ekonomi yang terpuruk, meningkatnya korban jiwa, dan kampanye drone Ukraina yang terus berlanjut. Namun, skeptisisme masih tinggi terhadap keseriusan Kremlin untuk bernegosiasi dengan itikad baik, terutama setelah Rusia meluncurkan rudal Oreshnik berkemampuan nuklir ke Kyiv baru-baru ini. Pertanyaan besarnya: apakah EU mampu mempertahankan kesatuan sikap di tengah tekanan untuk segera memulai perundingan, atau justru akan terpecah oleh kepentingan nasional masing-masing negara?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7494149/original/018397000_1780266740-Unggahann_Prabowo.jpeg)

