Survei Ungkap Preferensi Warga ASEAN: Singapura dan Jepang Jadi Primadona untuk Bekerja
Baca dalam 60 detik
- Mayoritas warga ASEAN memilih negara sesama anggota sebagai tujuan tinggal dan bekerja, dengan Singapura dan Jepang sebagai favorit utama.
- Thailand unggul di sektor pariwisata, namun daya tarik ekonomi Singapura dan Jepang lebih kuat untuk peluang kerja dan investasi.
- Hasil survei menunjukkan dinamika soft power yang timpang di kawasan, membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing regional.

Warga negara-negara ASEAN ternyata lebih memilih tinggal dan bekerja di sesama negara anggota ketimbang di luar kawasan, meskipun Jepang tetap menjadi primadona bagi sebagian besar responden. Temuan ini terungkap dalam survei terbaru yang mengukur daya tarik soft power di Asia Tenggara, di mana Singapura dan Jepang bersaing ketat sebagai destinasi utama untuk bekerja, sementara Thailand memimpin untuk kunjungan wisata.
Konsep soft power yang diperkenalkan oleh Joseph Nye pada 1990-an kini menjadi tolok ukur penting dalam hubungan internasional, melengkapi kekuatan militer dan ekonomi. Survei ini menyoroti bagaimana faktor budaya, nilai politik, dan kebijakan luar negeri suatu negara memengaruhi daya tariknya sebagai tempat investasi, perdagangan, bekerja, belajar, atau berwisata. Di Asia Tenggara, elemen-elemen tersebut semakin terintegrasi dalam ekonomi kreatif yang berkembang pesat, meskipun masih ada kekurangan infrastruktur nasional dan regional.
Data menunjukkan bahwa responden dari Malaysia (32 persen), Brunei (28,4 persen), Singapura (23,2 persen), dan Vietnam (17,9 persen) paling memilih negara ASEAN lain sebagai tujuan tinggal atau bekerja. Sementara itu, Jepang menjadi pilihan utama bagi warga Indonesia (25 persen), Filipina (23,7 persen), Thailand (22,8 persen), dan Myanmar (17,5 persen). Secara keseluruhan, negara ASEAN menjadi favorit dengan 19 persen suara, diikuti Jepang dengan 16,8 persen.
Bagi Indonesia, hasil survei ini menjadi cermin sekaligus tantangan. Dengan hanya 25 persen responden Indonesia yang memilih Jepang, sementara sisanya tersebar ke negara lain, menunjukkan bahwa daya tarik domestik masih perlu ditingkatkan. Pemerintah Indonesia dapat belajar dari Singapura yang berhasil membangun ekosistem kerja dan investasi yang kompetitif, serta dari Jepang yang memiliki daya pikat budaya dan teknologi. Penguatan soft power melalui sektor kreatif, pendidikan, dan infrastruktur digital menjadi kunci untuk menarik minat warga ASEAN lainnya.
Menurut analis hubungan internasional, ketimpangan soft power di kawasan ini mencerminkan perbedaan tingkat pembangunan ekonomi dan stabilitas politik. Negara seperti Singapura dan Jepang dianggap memiliki sistem pemerintahan yang transparan, kesempatan kerja yang luas, serta kualitas hidup yang tinggi. Sementara itu, Thailand memanfaatkan sektor pariwisata dan budaya yang kuat untuk menarik pengunjung, namun belum mampu mengimbangi daya tarik ekonomi kedua negara tersebut.
Ke depan, persaingan soft power di ASEAN diperkirakan akan semakin ketat seiring dengan integrasi ekonomi regional melalui Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Negara-negara anggota perlu berinvestasi pada sumber daya manusia, inovasi, dan diplomasi budaya untuk memenangkan hati warga kawasan. Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dan menjadi tujuan utama bagi warga ASEAN sendiri?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7660064/original/061589800_1780453537-IMG_0808.jpeg)

