Serangan AS-Iran Panaskan Harga Minyak, Selat Hormuz Kembali Genting
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent dan WTI melonjak 2% setelah serangan militer AS ke fasilitas Iran memicu ketakutan gangguan pasokan di Selat Hormuz.
- Meskipun ada klaim kemajuan negosiasi, Gedung Putih membantah kesepakatan dengan Iran, memperkuat ketidakpastian di pasar energi global.
- Kenaikan harga minyak yang berkepanjangan berpotensi mendorong inflasi lebih luas, memicu respons hawkish bank sentral termasuk di Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali meroket setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer baru terhadap fasilitas Iran, memicu kekhawatiran akan terganggunya jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, titik transit energi paling kritis di planet ini.
Pada perdagangan Kamis (28/5/2026), minyak Brent naik sekitar 2% menjadi US$96,28 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$90,75 per barel. Lonjakan ini terjadi setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan pangkalan udara AS sebagai respons atas serangan sebelumnya. Meski demikian, IRGC tidak merinci lokasi sasaran.
Serangan terbaru ini membalikkan tren penurunan harga yang terjadi sejak 18 Mei, ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan operasi militer besar untuk memberi ruang negosiasi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan, namun Gedung Putih membantah laporan bahwa Iran telah menyepakati nota kesepahaman untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Ketegangan di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung bagi Indonesia, yang masih mengimpor sekitar 40% kebutuhan minyak mentahnya. Kenaikan harga minyak akan membebani anggaran subsidi energi dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Bank Indonesia pun harus waspada terhadap tekanan inflasi impor yang dapat mempersulit kebijakan moneter.
Mantan penasihat energi senior Presiden AS Joe Biden, Amos Hochstein, menilai banyak pemimpin Timur Tengah percaya Iran secara efektif telah menguasai Selat Hormuz. โPersepsi itu akan bertahan terlepas dari isi kesepakatan apa pun,โ ujarnya, menggarisbawahi bahwa kendali de facto atas jalur tersebut sulit diubah hanya dengan perjanjian.
Sementara itu, analis Citigroup melihat pasar minyak mulai menemukan pijakan yang lebih stabil, dengan investor mulai mengurangi kekhawatiran skenario terburuk. Namun, ketidakpastian waktu tercapainya kesepakatan masih membuat bank sentral global waspada terhadap risiko inflasi. Citi memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak yang berkepanjangan dapat mendorong sikap moneter yang lebih ketat di berbagai negara.
Bagi Indonesia, skenario kenaikan harga minyak yang berlarut-larut berarti beban subsidi energi yang lebih besar, potensi kenaikan harga bahan bakar domestik, dan tekanan pada nilai tukar rupiah. Pemerintah perlu menyiapkan strategi mitigasi, termasuk mempercepat diversifikasi energi dan memperkuat cadangan strategis.
Pertanyaan besarnya kini: akankah eskalasi militer ini mendorong kedua belah pihak kembali ke meja perundingan, atau justru memicu konflik berkepanjangan yang mengguncang pasar energi global lebih dalam? Jawabannya akan menentukan arah harga minyak dan stabilitas ekonomi negara-negara pengimpor seperti Indonesia dalam beberapa pekan ke depan.



