Menteri Keuangan Purbaya: DSI Dongkrak Profit Emiten, Saham Himbara Layak Koleksi
Baca dalam 60 detik
- Pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) dinilai mampu meningkatkan transparansi dan profitabilitas emiten komoditas, sekaligus memperkuat likuiditas perbankan nasional.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendorong investor mengakumulasi saham bank Himbara yang masih tertekan, karena diproyeksikan menikmati lonjakan arus kas dari masuknya devisa hasil ekspor.
- Kebijakan ekspor satu pintu ini diyakini akan mendisiplinkan pengelolaan perusahaan publik dan mengerek kepercayaan pasar terhadap sektor komoditas dan perbankan Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka mendorong investor untuk mengoleksi saham bank-bank Himbara, menyusul optimisme bahwa pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) akan membawa berkah bagi pasar keuangan nasional. Dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (31/5/2026), ia menegaskan bahwa badan usaha yang mengelola ekspor satu pintu komoditas strategis ini bukan hanya memperbaiki tata kelola perusahaan terbuka, tetapi juga mengalirkan likuiditas segar ke sistem perbankan.
Menurut Purbaya, selama ini praktik ekspor komoditas kerap menyembunyikan sebagian keuntungan yang seharusnya tercatat dalam laporan keuangan emiten. Dengan kehadiran DSI, seluruh transaksi ekspor akan tercatat secara transparan, sehingga profitabilitas perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi melonjak signifikan. "Ini mendisiplinkan supaya pemilik tidak menggarong perusahaan sendiri yang notabene go public. Investor akan diuntungkan," ujarnya.
Dampak positif ini, lanjut Purbaya, seharusnya sudah tercermin pada pergerakan saham bank-bank pelat merah. Namun, ia mengaku heran mengapa harga saham mereka belum juga naik. "Kalau saya boleh main saham, saya udah beli kemarin-kemarin ketika jatuh. Ya Anda boleh, Anda beli aja yang banyak. Karena dia akan punya cash banyak nanti, bisa ngatur kekuatan di sektor finansial," ucapnya.
Bagi investor Indonesia, pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa kebijakan DSI tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memiliki implikasi langsung terhadap valuasi emiten komoditas dan perbankan. Analis menilai bahwa peningkatan transparansi akan mengurangi diskon risiko yang selama ini melekat pada saham-saham komoditas, sementara likuiditas perbankan yang lebih besar berpotensi mendorong ekspansi kredit dan margin bunga bersih.
Namun, optimisme ini perlu diuji dengan implementasi di lapangan. Sejauh mana DSI mampu menegakkan kepatuhan eksportir dan mengalirkan DHE secara efektif masih menjadi pertanyaan. Purbaya sendiri mengakui bahwa pasar butuh waktu untuk merespons, tetapi ia yakin fundamental yang lebih kuat pada akhirnya akan mendorong harga saham.
Ke depan, investor akan mencermati realisasi kebijakan DSI, termasuk mekanisme pengawasan dan sanksi bagi pelanggar. Jika berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin sektor komoditas dan perbankan menjadi motor penggerak IHSG dalam beberapa kuartal mendatang. Pertanyaannya, akankah pasar segera mengikuti keyakinan Menteri Keuangan?


