Pembelian Ederson: Tanda Carrick Mulai Benahi Lini Tengah Manchester United yang Boros
Baca dalam 60 detik
- Manchester United dikabarkan segera merampungkan transfer gelandang Atalanta, Ederson, senilai £35 juta, yang akan menjadi pembelian pertama era pelatih permanen Michael Carrick.
- Sejak kedatangan Carrick sebagai pemain pada 2006, United telah menghabiskan hampir £580 juta untuk 18 gelandang sentral, namun hanya sedikit yang sukses besar.
- Dengan kepergian Casemiro dan ketidakpastian masa depan Ugarte, United harus cermat di bursa transfer agar tidak mengulangi kegagalan rekrutmen masa lalu.

Manchester United dikabarkan akan segera mengumumkan pembelian pertama di era kepelatihan permanen Michael Carrick: gelandang Brasil asal Atalanta, Ederson, dengan nilai transfer sekitar £35 juta. Langkah ini menjadi ironi tersendiri karena Carrick, yang kini menjabat manajer tetap, justru merupakan gelandang tengah terakhir yang direkrut United pada 2006 sebelum posisinya terus diisi oleh sederet pemain mahal namun kerap mengecewakan.
Sejak memboyong Carrick dari Tottenham Hotspur dengan banderol £18,6 juta nyaris dua dekade lalu, Manchester United telah menggelontorkan dana hampir £580 juta untuk 18 gelandang sentral lainnya. Namun, dari deretan nama seperti Paul Pogba (£89 juta), Casemiro (£70 juta), hingga Donny van de Beek (£35 juta), hanya segelintir yang benar-benar memberikan dampak signifikan. Kini, dengan kepergian Casemiro yang kontraknya habis pada 30 Juni dan masa depan Manuel Ugarte yang tidak menentu, lini tengah Setan Merah kembali menjadi titik rawan.
Carrick mewarisi skuad dengan hanya Kobbie Mainoo sebagai gelandang tengah senior yang dapat diandalkan. Tiga produk akademi—Jack Fletcher, Tyler Fletcher, dan Jacob Devaney—memang tampil menjanjikan, tetapi belum siap menjadi starter reguler di Premier League maupun Liga Champions. Situasi ini memaksa United bergerak cepat di bursa transfer, meski dengan pendekatan yang lebih hati-hati.
Pilihan utama United sebenarnya adalah Elliot Anderson dari Nottingham Forest, namun sang pemain dikabarkan lebih condong ke Manchester City. Selain itu, Forest membanderol gelandang Inggris itu dengan harga sekitar £120 juta—angka yang enggan dibayar United. Manajemen klub juga tidak ingin terlibat perang harga, sehingga mulai melirik alternatif yang lebih realistis.
Beberapa nama mulai muncul ke permukaan. Mateus Fernandes dari West Ham United menjadi opsi menarik setelah The Hammers terdegradasi ke Championship, yang melemahkan posisi tawar mereka. Carlos Baleba dari Brighton sempat diincar musim panas lalu, namun United mundur saat harganya disebut melebihi £100 juta. Kini, performa Baleba yang menurun bisa menekan banderolnya, meski pemilik Brighton, Tony Bloom, dikenal sebagai negosiator keras.
Dua gelandang Bournemouth, Alex Scott dan Tyler Adams, juga masuk radar. Scott, yang tampil impresif di bawah asuhan Andoni Iraola, dikabarkan ingin pindah ke klub yang lebih besar setelah gagal masuk skuad Piala Dunia 2026. Sementara itu, situasi di Real Madrid—ketegangan antara Aurelien Tchouameni dan Federico Valverde serta kembalinya Jose Mourinho—membuka peluang bagi United untuk bergerak jika ada tanda-tanda pemain Prancis itu tersedia.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga transfer ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan klub besar tidak selalu diukur dari seberapa banyak uang yang dibelanjakan. Manchester United, yang memiliki basis penggemar besar di Indonesia, perlu membuktikan bahwa mereka telah belajar dari masa lalu. Jika Ederson benar-benar bergabung, ia akan menjadi pemain Brasil keempat di lini tengah United setelah Anderson, Fred, dan Casemiro—sebuah tradisi yang tidak selalu berbuah manis.
Pertanyaan besarnya: akankah Ederson menjadi jawaban atas kebuntuan kreativitas United, atau justru menjadi bagian dari daftar panjang pembelian yang gagal? Dengan Carrick yang memahami betul tuntutan posisi tersebut, harapan tentu ada. Namun, sejarah menunjukkan bahwa membenahi lini tengah United bukanlah perkara mudah—bahkan bagi mantan penghuninya sekalipun.



