Bangladesh Mulai Jaga Jarak dari India: Sinyal Normalisasi dengan Pakistan
Baca dalam 60 detik
- Dhaka mengirim 12 pejabat senior ke Pakistan untuk pelatihan birokrasi, langkah yang dinilai sebagai upaya diversifikasi hubungan diplomatik.
- India khawatir pemulihan hubungan Bangladesh-Pakistan dan pengaruh partai Islam dapat memicu masalah keamanan di perbatasan timur.
- Pemerintahan baru Bangladesh di bawah Tarique Rahman berusaha menyeimbangkan hubungan dengan India dan Pakistan, dengan tetap menjaga dialog dengan Delhi.

Pemerintahan baru Bangladesh di bawah Perdana Menteri Tarique Rahman mulai menunjukkan tanda-tanda pergeseran diplomasi regional dengan mengirimkan 12 pejabat senior ke Pakistan untuk mengikuti program pelatihan eksekutif di Lahore, langkah yang oleh para analis dinilai sebagai upaya Dhaka untuk memperluas ruang gerak diplomatiknya setelah bertahun-tahun berada dalam bayang-bayang New Delhi.
Program pelatihan yang berlangsung pada 4-21 Mei di Civil Services Academy Lahore ini menjadi sinyal bahwa Bangladesh ingin menjalin hubungan yang lebih pragmatis dengan Islamabad, setelah era Sheikh Hasina yang identik dengan kedekatan erat dengan India. Langkah ini tidak lepas dari pengawasan ketat India, yang khawatir normalisasi hubungan Bangladesh-Pakistan dapat memicu kebangkitan kembali pengaruh partai Islam seperti Jamaat-e-Islami di Dhaka, yang selama ini dianggap Delhi sebagai potensi ancaman keamanan di perbatasan timurnya.
Para pengamat India mencatat bahwa jumlah pejabat yang dikirim ke Pakistan relatif kecil dibandingkan dengan delegasi yang terus dikirim ke India. Namun, simbolisme dari langkah ini tidak bisa diabaikan. Bangladesh tampaknya ingin menyeimbangkan hubungan dengan kedua tetangga besarnya, terutama setelah hubungan dengan India sempat tegang di bawah pemerintahan interim sebelumnya.
Dalam konteks Indonesia, dinamika ini menarik karena menunjukkan bagaimana negara-negara Asia Selatan mulai mendiversifikasi aliansi mereka di tengah persaingan pengaruh antara India dan China. Indonesia, yang juga memiliki hubungan erat dengan India dan Pakistan, dapat mempelajari strategi Bangladesh dalam menjaga keseimbangan diplomatik tanpa harus memihak secara eksklusif. Bagi Jakarta, langkah Dhaka ini menjadi pengingat bahwa diplomasi yang fleksibel dan pragmatis dapat menjadi kunci dalam menghadapi tekanan geopolitik.
Di sisi lain, kunjungan Menteri Luar Negeri Bangladesh Khalilur Rahman ke Delhi bulan lalu menunjukkan bahwa Dhaka tidak berniat memutus hubungan dengan India. Pertemuan tersebut merupakan engagement politik tingkat tinggi pertama setelah pemilu Februari lalu, yang menandai upaya untuk meredakan ketegangan dan membangun kembali kepercayaan. Namun, India tetap waspada terhadap setiap langkah Bangladesh yang mendekat ke Pakistan, terutama jika hal itu disertai dengan meningkatnya pengaruh kelompok Islamis di dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Bangladesh mampu mempertahankan keseimbangan ini tanpa memicu reaksi keras dari salah satu pihak. Dengan India yang terus memonitor situasi dan Pakistan yang mungkin melihat peluang untuk memperkuat hubungan, Dhaka harus berjalan di atas tali yang sangat tipis. Bagi Indonesia, perkembangan ini layak dicermati sebagai contoh bagaimana negara berkembang menavigasi persaingan kekuatan besar di kawasan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7332618/original/047745000_1780117202-prabos-halim.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7456001/original/001425200_1780230569-Karangan_Bunga.jpg)

