Shangri-La Dialogue: Peringatan AS ke Sekutu, Kurangi Forum Perbanyak Kapal Perang
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mendesak sekutu di Asia meningkatkan belanja pertahanan, dengan nada sindiran 'kurangi Shangri-La, perbanyak kapal dan kapal selam'.
- Pernyataan itu menandai perubahan pendekatan Washington yang lebih transaksional, mengancam akan mengevaluasi ulang hubungan dengan negara yang tidak memenuhi target pengeluaran militer.
- Para analis menilai retorika tersebut mencerminkan gaya diplomasi ala kekuatan besar yang mengandalkan tekanan ekonomi dan militer, namun dianggap kurang peka terhadap kondisi masing-masing negara.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, melontarkan pernyataan kontroversial di forum keamanan terbesar Asia, Shangri-La Dialogue di Singapura, akhir pekan lalu. Ia secara terbuka memperingatkan sekutu-sekutu Washington di kawasan bahwa mereka harus segera meningkatkan anggaran pertahanan atau menghadapi konsekuensi dalam hubungan bilateral. “Maaf saya katakan di sini: kurangi Shangri-La, perbanyak kapal, perbanyak kapal selam,” ujarnya di hadapan para delegasi, Sabtu (1/6).
Pernyataan itu menjadi sorotan utama dalam dialog tahunan yang mempertemukan para pejabat pertahanan dan pakar keamanan dari seluruh Asia. Hegseth menegaskan bahwa negara-negara sahabat yang enggan memikul beban lebih besar dalam pertahanan kolektif akan menyaksikan “pergeseran jelas” dalam cara Washington berbisnis dengan mereka. Ancaman ini menandai perubahan nada dari pendekatan AS yang selama ini lebih mengedepankan diplomasi dan kerja sama.
Faizal Abdul Rahman, peneliti dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) yang hadir di sela-sela forum, menilai pidato Hegseth mencerminkan pola pikir negara adidaya yang terbiasa menggunakan kekuatan militer dan ekonomi untuk memengaruhi negara lain. “Ini adalah cara pandang negara besar dan kaya yang mampu menggunakan kekuatan luar biasa untuk mengubah perilaku negara lain,” ujarnya. Menurut Faizal, pendekatan seperti ini bisa kontraproduktif jika tidak mempertimbangkan kebutuhan dan kapasitas masing-masing sekutu.
Bagi Indonesia, pernyataan Hegseth memiliki implikasi langsung. Sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif dan tidak terikat aliansi militer, Indonesia selama ini menolak tekanan untuk memihak dalam rivalitas AS-China. Pernyataan tersebut dapat mempersulit posisi Indonesia di kawasan, terutama jika Washington mulai menerapkan standar baru dalam hubungan pertahanan. Di sisi lain, Indonesia justru diuntungkan oleh stabilitas kawasan yang selama ini dijaga melalui forum-forum multilateral seperti ASEAN. Retorika “kurangi forum, perbanyak kapal” berpotensi mengikis semangat dialog yang selama ini menjadi fondasi keamanan Asia Tenggara.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah negara-negara sekutu akan menuruti permintaan AS atau justru semakin menjauh. Beberapa negara seperti Australia dan Jepang telah berkomitmen meningkatkan belanja militer, namun negara-negara berkembang di Asia Tenggara mungkin kesulitan mengikuti irama tersebut. Shangri-La Dialogue tahun depan akan menjadi ajang untuk melihat apakah pesan Hegseth benar-benar direspons dengan aksi nyata, atau justru menimbulkan resistensi yang lebih dalam.