Produsen Bata Ringan BLES Genjot Distributor di Tengah Daya Beli Tertekan
Baca dalam 60 detik
- PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) menambah jaringan distributor untuk memperluas pasar ritel rumah menengah bawah.
- Tekanan daya beli dan geopolitik membuat utilisasi pabrik bata ringan hanya mencapai 60%.
- Efisiensi bahan baku menjadi kunci strategi BLES menghadapi tantangan bisnis hingga 2026.

Produsen bata ringan PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) mempercepat ekspansi jaringan distribusi guna mendongkrak penjualan di segmen ritel, terutama rumah tangga menengah ke bawah, di tengah tekanan daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi global.
Direktur BLES, Andrew, mengungkapkan bahwa industri material bangunan saat ini masih bergulat dengan turunnya permintaan akibat pelemahan ekonomi. Utilisasi kapasitas produksi perseroan tercatat hanya 60%, jauh dari level ideal. "Kami harus efisien dan memperluas jangkauan agar produk tetap terserap pasar," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.
Untuk mengatasi hal tersebut, BLES menambah jumlah distributor di Jawa Timur hingga ke daerah pelosok. Langkah ini diikuti rencana ekspansi ke Jawa Barat, yang selama ini belum tergarap maksimal. Dengan jaringan distribusi yang lebih rapat, perseroan berharap produk bata ringan merek BLES bisa lebih mudah diakses oleh kontraktor kecil dan pemilik rumah yang membangun secara mandiri.
Selain perluasan pasar, BLES juga melakukan efisiensi biaya produksi dengan mengubah komposisi bahan baku. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga margin di tengah fluktuasi harga material dan pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya impor. Andrew menegaskan bahwa inovasi pada campuran semen dan pasir silika tetap mempertahankan kualitas produk sesuai standar.
Bagi pelaku industri properti dan material bangunan di Indonesia, langkah BLES mencerminkan tren adaptasi di sektor hilir konstruksi. Saat proyek properti besar melambat, pasar ritel menjadi andalan. Namun, segmen ini sangat sensitif terhadap harga dan daya beli. Jika strategi distribusi dan efisiensi berhasil, BLES berpotensi mempertahankan pangsa pasar di tengah persaingan ketat dengan merek lain seperti Hebel dan Grand Elephant.
Andrew juga menyoroti dampak geopolitik global yang mempengaruhi biaya logistik dan ketersediaan bahan baku. Meski demikian, ia optimistis permintaan bata ringan akan pulih seiring program pemerintah yang mendorong pembangunan rumah subsidi. "Kami siap menghadapi 2026 dengan fundamental yang lebih kuat," pungkasnya.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ekspansi distribusi ini cukup untuk mengompensasi tekanan margin, atau justru akan membebani biaya operasional? Jawabannya akan terlihat pada laporan keuangan kuartal mendatang.



