Sentimen Negatif Mendera IHSG dan Rupiah: Manajer Investasi Ungkap Jurus Bertahan
Baca dalam 60 detik
- Investment Director Sucor Asset Management menilai tekanan di pasar keuangan Indonesia masih besar akibat sentimen global dan domestik.
- Ketidakpastian geopolitik global dan kebijakan MSCI/FTSE mendorong pelaku pasar wait and see, namun potensi investasi di obligasi dan saham tetap menarik.
- Langkah perbaikan regulator dan BEI diyakini dapat memulihkan kepercayaan pasar dalam jangka menengah.

Tekanan di pasar keuangan Indonesia masih jauh dari mereda. Investment Director Sucor Asset Management, Dimas Yusuf, menilai kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri terus membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. Meski demikian, potensi investasi di pasar modal domestik, khususnya obligasi dan saham, dinilai tetap menarik bagi investor yang mampu membaca peluang di tengah ketidakpastian.
Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik menjadi momok utama. Konflik yang belum mereda di sejumlah kawasan serta kebijakan moneter negara maju yang masih ketat membuat aliran modal asing cenderung hati-hati. Dimas menggarisbawahi bahwa tekanan ini dapat berlanjut dalam waktu dekat, namun ia juga melihat sisi positif: fundamental ekonomi Indonesia yang relatif solid membuat aset keuangan Tanah Air tetap kompetitif dibanding negara emerging market lainnya.
Di dalam negeri, isu terkait kebijakan MSCI dan FTSE turut memperkuat sikap wait and see pelaku pasar. Keputusan indeks global tersebut mempengaruhi persepsi investor terhadap tata kelola pasar modal Indonesia. Namun, Dimas optimistis langkah perbaikan yang dilakukan regulator dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat mendorong pemulihan kepercayaan. โPerbaikan regulasi dan transparansi akan menjadi kunci untuk menarik kembali minat investor asing,โ ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.
Bagi investor Indonesia, situasi ini menuntut strategi yang lebih cermat. Dimas menyarankan agar investor tidak terjebak dalam kepanikan jangka pendek, melainkan fokus pada fundamental emiten dan sektor yang tahan terhadap gejolak. Sektor konsumen, infrastruktur, dan energi dinilai masih prospektif di tengah tekanan. Sementara itu, obligasi pemerintah dengan imbal hasil menarik bisa menjadi pilihan aman bagi investor yang menghindari risiko tinggi.
Ke depan, arah pergerakan pasar akan sangat bergantung pada respons kebijakan domestik dan perkembangan geopolitik global. Jika regulator berhasil mengembalikan kepercayaan melalui reformasi pasar modal, bukan tidak mungkin IHSG dan rupiah kembali menguat. Namun, jika ketidakpastian berlanjut, tekanan bisa semakin dalam. Pertanyaan besarnya: akankah langkah perbaikan yang dilakukan cukup cepat untuk mengantisipasi arus modal keluar yang lebih besar?



