Menkeu Purbaya: Pelemahan Rupiah Belum Berdampak ke Fiskal dan Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan depresiasi rupiah saat ini masih dalam batas aman dan tidak mengganggu anggaran negara.
- Pemerintah telah mengantisipasi pelemahan rupiah dalam postur APBN, sehingga risiko fiskal tetap terkendali meski nilai tukar tertekan.
- Optimisme terhadap prospek perdamaian global dan pertumbuhan ekonomi domestik diyakini akan mendorong penguatan rupiah dalam beberapa bulan ke depan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini belum memberikan tekanan berarti terhadap kondisi fiskal dan aktivitas ekonomi nasional. Dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (31/5/2026), ia mengklaim bahwa pemerintah telah memperhitungkan skenario depresiasi rupiah dalam penyusunan anggaran, sehingga postur fiskal tetap terjaga.
โDari sisi anggaran, kami telah menghitung depresiasi rupiah mendekati level saat ini, jadi anggaran saya masih oke meskipun rupiah melemah ke level saat ini,โ ujar Purbaya. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap dampak pelemahan rupiah terhadap impor, inflasi, dan beban utang luar negeri. Namun, menurut Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menyerap guncangan tersebut.
Purbaya menekankan bahwa dalam jangka panjang, penguatan nilai tukar akan terjadi secara alami seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang solid. Ia berfokus pada upaya menjaga momentum pertumbuhan domestik agar tetap tinggi, yang pada gilirannya akan menarik minat investor asing. โInvestor, terutama FDI dan investor asing, akan suka berinvestasi di negara yang menawarkan pertumbuhan paling menjanjikan di kawasan ini,โ jelasnya.
Di tengah ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter ketat di negara maju, Purbaya melihat secercah harapan dari prospek perdamaian Timur Tengah. โJika kita melihat Bloomberg dan Al Jazeera, berita mengatakan bahwa AS, Iran, dan Israel sangat dekat untuk mencapai kesepakatan. Prospek perdamaian, kondisi global yang lebih baik ada di sana. Saya percaya dalam dua atau tiga bulan ke depan akan jauh lebih baik daripada sekarang,โ katanya.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, pernyataan Menkeu ini memberikan sinyal bahwa pemerintah masih optimistis terhadap stabilitas ekonomi meskipun rupiah tertekan. Namun, analis mengingatkan bahwa ketergantungan pada faktor eksternal seperti kesepakatan geopolitik dan aliran modal asing tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah optimisme ini terbukti jika kondisi global tidak membaik sesuai harapan?



