Putra Buruh Bangunan NTT Raih Lulusan Terbaik IPDN 2026: Bukti Mimpi Tak Kenal Kasta
Baca dalam 60 detik
- Aji Bayu Ramadhan, anak seorang buruh bangunan asal NTT, menjadi lulusan terbaik IPDN Angkatan XXXIII dengan IPK 3,84.
- Dari 1.204 pamong praja muda yang dilantik, Aji menjadi simbol bahwa latar belakang ekonomi bukan halangan untuk meraih prestasi di institusi kepamongprajaan.
- Ia telah mengembangkan tiga sistem teknologi untuk membantu birokrasi dan berharap menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, khususnya daerah 3T.

Aji Bayu Ramadhan, putra seorang buruh bangunan asal Nusa Tenggara Timur, membuktikan bahwa garis kemiskinan tak mampu membatasi asa. Rabu pekan ini, ia resmi dinobatkan sebagai lulusan terbaik Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXXIII tahun 2026, menyisihkan ribuan rekannya dari seluruh Indonesia.
Pria kelahiran NTT itu menorehkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84 dari skala 4,00. Prestasi itu tidak hanya mengharumkan nama keluarga, tetapi juga menjadi tamparan bagi stereotip bahwa anak dari kalangan ekonomi bawah sulit menembus pendidikan elite kepamongprajaan. Aji adalah lulusan Program Studi Teknologi Rekayasa Informasi Pemerintahan, Fakultas Manajemen Pemerintahan.
Keterbatasan ekonomi bukanlah cerita asing bagi Aji. Ayahnya, Winoto Hadi, bekerja sebagai buruh bangunan, sementara ibunya, Wahyuniarti, adalah ibu rumah tangga. Namun, pesan orang tuanyalah yang menjadi pondasi: tetap rendah hati dan ingat bahwa mereka berasal dari masyarakat menengah ke bawah. โAmanah itu selalu saya bawa selama belajar di IPDN,โ ujarnya seusai pelantikan di Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian secara resmi melantik 1.204 lulusan sebagai Pamong Praja Muda melalui keputusan yang ditandatangani pada 24 Juni lalu. Di antara ribuan wajah bersemangat itu, Aji menjadi satu-satunya yang menyandang predikat terbaik. Ia mengaku bahwa kondisi ekonomi yang serba pas-pasan justru menjadi bahan bakar untuk terus mengasah kemampuan. โKeterbatasan bukan hambatan, tapi motivasi,โ katanya.
Yang menarik, Aji tidak hanya unggul secara akademik. Ia telah merancang tiga sistem informasi yang bertujuan memetakan dan menyelesaikan persoalan di masyarakat. โSaya ingin teknologi menjadi jembatan antara birokrasi dan rakyat, terutama untuk daerah-daerah tertinggal,โ jelasnya. Langkah ini dinilai relevan dengan kebutuhan reformasi birokrasi digital di Indonesia, di mana masih banyak kantor desa yang bergantung pada administrasi manual.
Bagi generasi muda di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), kisah Aji adalah bukti nyata bahwa jarak geografis dan ekonomi bukan takdir. Ia mengajak mereka untuk tidak minder dan terus bermimpi melalui kerja keras, doa, dan semangat belajar. โSaya ingin menjadi contoh bahwa anak buruh bangunan pun bisa menjadi pamong praja yang membawa perubahan,โ pungkasnya.
Ke depan, publik akan menanti apakah inovasi teknologi yang ia bangun benar-benar bisa diimplementasikan di lingkungan pemerintahan daerah. Jika berhasil, Aji tidak hanya akan menjadi lulusan terbaik di atas kertas, tetapi juga agen perubahan bagi birokrasi Indonesia yang kerap digerogoti lambannya layanan.



