Dari Litmanen hingga Hradecký: Jejak Pemain Finlandia di Bundesliga
Baca dalam 60 detik
- Lukas Hradecký memegang rekor penampilan terbanyak kiper non-Jerman di Bundesliga dan menjadi kapten saat Leverkusen meraih gelar ganda tak terkalahkan.
- Jari Litmanen, ikon sepak bola Finlandia, hanya tampil 13 kali di Bundesliga namun tetap dikenang sebagai salah satu pemain terbaik negara Nordik itu.
- Petri Pasanen dan Sami Hyypiä membuktikan bahwa pemain bertahan Finlandia mampu bersaing di level tertinggi Jerman, dengan total lebih dari 250 penampilan.

Menjelang laga uji coba Jerman melawan Finlandia dalam rangka persiapan Piala Dunia 2026, Bundesliga kembali mengingatkan kontribusi signifikan para pemain Finlandia yang pernah merumput di kasta tertinggi sepak bola Jerman. Dari kiper legendaris hingga bek tangguh, jejak mereka meninggalkan warisan yang patut diapresiasi.
Lukas Hradecký, kiper kelahiran Bratislava yang dibesarkan di Finlandia, mencatatkan namanya sebagai salah satu penjaga gawang terbaik Bundesliga. Bergabung dengan Eintracht Frankfurt pada 2015, ia membantu klub mengakhiri paceklik gelar selama 30 tahun dengan menjuarai DFB Pokal 2018. Puncak kariernya terjadi bersama Bayer Leverkusen, di mana ia dipercaya menjadi kapten dan memimpin tim meraih gelar ganda tak terkalahkan pada musim 2023/24—sebuah pencapaian langka dalam sejarah Bundesliga. Hradecký kini menjadi kiper non-Jerman dengan jumlah penampilan terbanyak di liga, sebelum pindah ke Monaco pada 2025.
Sami Hyypiä, bek tengah berpostur kokoh, memilih Leverkusen sebagai pelabuhan terakhir karier gemilangnya pada 2009. Meski sudah berusia 35 tahun, Hyypiä tetap tampil konsisten dan masuk dalam Tim Terbaik Bundesliga musim 2008/09. Setelah pensiun, ia sempat menjadi pelatih kepala Leverkusen pada 2013/14. Dengan 105 caps bersama Finlandia, Hyypiä adalah legenda yang dihormati baik di dalam maupun luar lapangan.
Jari Litmanen, yang dianggap sebagai pemain terbaik Finlandia sepanjang masa, hanya mencatatkan 13 pertandingan Bundesliga bersama Hansa Rostock pada paruh kedua musim 2004/05. Meski hanya mencetak satu gol dan satu assist, kehadirannya memberikan dampak positif bagi tim yang akhirnya terdegradasi. Litmanen tetap menjadi ikon dengan 137 caps dan 32 gol untuk negara, serta sempat kembali bermain di usia 55 tahun bersama klub Estonia.
Petri Pasanen, bek serba bisa yang bergabung dengan Werder Bremen dari Ajax pada 2004, tampil dalam 144 pertandingan Bundesliga—terbanyak kedua di antara pemain Finlandia setelah Hradecký. Ia membantu Werder meraih DFB Pokal dan DFB Ligapokal, serta tampil di final Piala UEFA 2008/09. Sementara itu, Mikkael Forssell, striker yang sempat kesulitan menembus tim utama Chelsea, justru bersinar di Mönchengladbach dan Hannover dengan total 14 gol Bundesliga.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah para pemain Finlandia di Bundesliga memberikan gambaran bahwa pemain dari negara non-tradisional pun bisa sukses di liga elite Eropa. Dengan semakin banyaknya pemain Asia Tenggara yang merambah Eropa, jejak Finlandia bisa menjadi inspirasi bahwa kerja keras dan adaptasi adalah kunci utama.
Ke depan, akankah generasi baru pemain Finlandia mampu menyamai atau bahkan melampaui prestasi para pendahulu mereka di Bundesliga? Atau justru pemain Indonesia yang akan menorehkan kisah serupa di masa mendatang?



