Wolfsburg Tunjuk Dieter Hecking sebagai Direktur Olahraga: Misi Bangkit dari Divisi Dua
Baca dalam 60 detik
- Dieter Hecking, pelatih yang membawa Wolfsburg juara DFB Pokal 2015, kembali sebagai Direktur Olahraga mulai Juni 2026 dengan kontrak hingga 2028.
- Wolfsburg harus berkompetisi di Bundesliga 2 musim depan setelah degradasi, dan Hecking dianggap figur tepat berkat pengalamannya di Nuremberg sebagai direktur olahraga.
- Hecking mengakui beban degradasi masih terasa, namun optimistis membangun atmosfer positif demi kembali ke kasta tertinggi.

VfL Wolfsburg resmi menunjuk Dieter Hecking sebagai Managing Director Sport yang baru, mengakhiri masa lowong posisi tersebut sejak Peter Christiansen dipecat pada Maret lalu. Pelatih berusia 61 tahun itu akan beralih dari kursi pelatih ke meja manajemen mulai Juni 2026, dengan kontrak berdurasi hingga 2028. Langkah ini diambil klub saat mereka bersiap menghadapi musim 2026/27 di Bundesliga 2 untuk pertama kalinya dalam 29 tahun, setelah kalah dalam play-off degradasi dari Paderborn.
Hecking bukanlah nama asing di Wolfsburg. Ia pernah menukangi klub antara 2013 dan 2016, periode paling gemilang dalam sejarah Die Wölfe. Di bawah arahannya, Wolfsburg merebut DFB Pokal 2015, menjadi runner-up Bundesliga, dan memenangi DFL-Supercup. Prestasi itu mengantarnya dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Jerman tahun 2015. Kini, ia kembali dengan peran baru yang tak kalah krusial: merancang ulang skuad dan strategi klub yang tengah terpuruk.
Keputusan mengangkat Hecking dinilai sebagai solusi internal yang cerdas. Ketua dewan pengawas Wolfsburg, Sebastian Rudolph, menegaskan bahwa Hecking mewakili semangat tim dan identifikasi kuat terhadap klub. "Dia tahu Bundesliga 2 dan tuntutannya. Bersama Pirmin Schwegler dan tim di belakangnya, dia akan melanjutkan kerja sama yang sudah terjalin dengan baik," ujar Rudolph. Hecking sendiri mengaku sempat ragu antara melanjutkan karier kepelatihan atau beralih ke peran manajerial, namun akhirnya memantapkan hati.
Hecking mengakui bahwa degradasi masih membebani pikirannya. "Yang penting sekarang adalah menciptakan atmosfer positif di sekitar klub secepat mungkin, sehingga kita bisa menghadapi tantangan Bundesliga 2 dengan campuran kerendahan hati, keberanian, dan keyakinan," katanya. Ia menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan diri tim dan suporter setelah musim yang mengecewakan.
Pengalaman Hecking sebagai direktur olahraga di Nuremberg antara 2020 dan 2024 menjadi modal berharga. Di sana, ia juga sempat menjadi pelatih interim pada musim 2022/23. Kombinasi antara pemahaman teknis lapangan dan kemampuan manajerial membuatnya dianggap tepat untuk memimpin restrukturisasi Wolfsburg. Pirmin Schwegler, mantan pemain yang kini menjabat sebagai direktur olahraga lainnya, akan menjadi mitra kerjanya.
Bagi sepak bola Indonesia, langkah Wolfsburg mengangkat figur internal seperti Hecking bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kesinambungan dan loyalitas. Klub-klub di Liga Indonesia kerap berganti pelatih dan manajemen secara drastis tanpa mempertimbangkan nilai historis. Kasus Hecking menunjukkan bahwa figur yang telah terbukti berhasil di masa lalu, meski dalam peran berbeda, tetap bisa menjadi solusi di masa sulit. Apakah strategi serupa akan diadopsi oleh klub-klub Asia Tenggara yang tengah berbenah? Hanya waktu yang akan menjawab.



