Prabowo ke Pamong Praja Muda: Kolaborasi Kunci Sukses Birokrasi, Jangan Sombong
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo melantik 1.204 pamong praja muda IPDN Angkatan XXXIII di Jatinangor, menekankan pentingnya membangun jejaring dan kerja sama lintas sektor.
- Pamong praja diminta tidak menjadi pemimpin yang sombong dan mampu bergaul dengan seluruh elemen, mulai dari tokoh agama hingga pelaku usaha.
- Pesan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada implementasi kebijakan di lapangan, bukan sekadar gagasan besar di atas kertas.

Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik 1.204 pamong praja muda lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXXIII di Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Rabu (12/2). Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa kemampuan berkolaborasi menjadi modal utama bagi para calon pemimpin birokrasi ini untuk menjalankan tugasnya kelak.
Menurut Prabowo, seorang pamong praja tidak akan pernah bekerja sendirian. Mereka akan menjadi bagian dari sebuah tim besar kebangsaan yang mencakup TNI, Polri, kejaksaan, pemerintah daerah, dan seluruh lapisan masyarakat. "Bangunlah kerja sama. Kerja sama adalah kunci dari keberhasilan. Saudara harus saling menghormati, saling mendukung, dan saling memperkuat," ujarnya dalam sambutan yang disiarkan langsung melalui kanal Sekretariat Presiden.
Presiden juga mengingatkan agar para pamong praja muda tidak menjadi pemimpin yang sombong. Ia meminta mereka pandai bergaul dan memelihara hubungan baik dengan berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, pelaku usaha, tokoh masyarakat, hingga tokoh adat. Sikap ini dinilai krusial untuk membangun kepercayaan publik dan memastikan program pemerintah berjalan efektif.
Lebih jauh, Prabowo menegaskan bahwa kebijakan dan rencana terbaik sekalipun tidak akan berarti apa-apa jika tidak diimplementasikan secara nyata di lapangan. "Gagasan yang paling besar, rencana yang paling besar, kebijakan-kebijakan yang paling baik, kalau tidak dilaksanakan di lapangan, gagasan besar itu kandas. Rencana terbaik itu tidak tercapai," imbuhnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa birokrasi harus menjadi ujung tombak eksekusi, bukan sekadar mesin administrasi.
Bagi Indonesia, pesan ini relevan mengingat masih banyaknya tantangan dalam efektivitas birokrasi di daerah. Pamong praja muda diharapkan mampu menjadi motor penggerak pembangunan yang tidak hanya menguasai regulasi, tetapi juga mampu menjembatani kepentingan pusat dan daerah. Mereka adalah generasi penerus yang akan menentukan arah pemerintahan di masa depan, khususnya dalam mencapai target Indonesia Emas 2045.
"Kalau nanti bertugas, saudara tidak akan bekerja sendiri. Saudara menjadi bagian dari satu tim besar kebangsaan." โ Presiden Prabowo Subianto
Ke depan, tantangan bagi para pamong praja muda adalah bagaimana menerjemahkan semangat kolaborasi ini ke dalam praktik keseharian. Akankah mereka mampu mematahkan stereotip birokrasi yang lambat dan kaku? Atau justru menjadi agen perubahan yang mempercepat proses pembangunan? Pertanyaan ini akan terjawab dalam beberapa tahun ke depan, seiring mereka mulai mengemban amanah di berbagai wilayah tanah air.



