Terpapar Panas 34°C, Petenis Ranking 19 Pingsan di Lapangan
Baca dalam 60 detik
- Unggulan pertama Memphis Classic, Ekaterina Alexandrova, kolaps dan mundur akibat suhu ekstrem 34°C.
- Kemenangan debut Kristina Liutova di WTA diwarnai kekhawatiran atas kondisi lawan yang tak sadarkan diri.
- Venus Williams kembali menelan kekalahan di babak pertama turnamen Washington, menambah catatan buruk musim ini.

Panas menyengat di Memphis, Tennessee, memaksa petenis peringkat 19 dunia Ekaterina Alexandrova mundur dari turnamen setelah jatuh pingsan di tengah lapangan. Insiden yang terjadi pada babak pertama Memphis Classic itu menjadi pengingat keras akan bahaya heat exhaustion dalam olahraga tenis level profesional.
Alexandrova, yang berstatus unggulan pertama, sedang tertinggal 7-6 (7-2), 4-6, 5-4 dari rekan senegaranya, Kristina Liutova, yang masih berusia 16 tahun. Pertandingan telah berlangsung lebih dari tiga jam saat suhu mencapai 34 derajat Celsius. Wasit sempat memberikan time violation karena petenis Rusia itu terlalu lambat melakukan servis akibat kelelahan, namun beberapa poin kemudian ia langsung ambruk.
Tim medis segera memberikan pertolongan. Alexandrova masih bisa berdiri, tetapi tidak mampu melanjutkan laga, sehingga Liutova dinyatakan menang. Remaja itu justru menangis di lapangan menyaksikan lawannya dalam kondisi kritis. “Saya hanya khawatir padanya,” ujarnya seusai pertandingan, seperti dikutip penyelenggara. Kemenangan ini menjadi debut Liutova di turnamen WTA, namun euforia itu sirna oleh mencekamnya situasi.
Kejadian ini memicu perdebatan tentang keamanan pemain di tengah cuaca ekstrem. Beberapa turnamen sebelumnya telah menerapkan aturan istirahat pendingin (heat break), namun di Memphis tidak ada kebijakan khusus. Federasi Tenis Internasional (ITF) dan WTA belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Sementara itu, di Washington, petenis veteran Venus Williams kembali menelan kekalahan di babak pertama Mubadala DC Open. Williams yang berusia 46 tahun takluk 6-3, 6-3 dari Anastasia Potapova. Statistik menunjukkan ia hanya memenangkan 24,1 persen poin dari servis kedua dan 20 persen dari pengembalian bola, menandai kesulitannya menghadapi pemain yang lebih muda dalam kondisi lapangan yang cepat.
Bagi Indonesia, insiden Alexandrova memberikan pelajaran penting. Atlet tanah air yang kerap bertanding di luar negeri, terutama di negara dengan suhu tinggi, perlu mempersiapkan aklimatisasi dan strategi hidrasi yang lebih ketat. Turnamen seperti AS Terbuka dan Australia Terbuka juga kerap digelar saat musim panas, sehingga risiko heat stroke bukan sekadar teori. Para pelatih dan ofisial tim diharapkan mulai mendorong penerapan protokol kesehatan berbasis cuaca, termasuk pemantauan suhu inti pemain secara real-time.
Ke depan, apakah WTA dan ATP akan memperketat regulasi tentang kondisi panas? Atau justru menyerahkan keputusan kepada pemain? Pertanyaan ini mengemuka di tengah perubahan iklim yang membuat gelombang panas semakin sering terjadi di berbagai kota penyelenggara turnamen. Keselamatan atlet harus tetap menjadi prioritas utama, agar permainan berjalan fair dan tanpa risiko yang tidak perlu.



