Fulham Incar Aaron Wan-Bissaka: Bek Sayap Rp200 Jutaan Jadi Target Murah di Tengah Krisis West Ham
Baca dalam 60 detik
- West Ham terdegradasi ke Championship musim depan, memaksa klub melepas pemain dengan gaji tinggi seperti Aaron Wan-Bissaka yang dihargai sekitar Β£10 juta.
- Fulham, yang masih berpeluang finis di papan atas Premier League, melihat Wan-Bissaka sebagai opsi murah untuk memperkuat lini belakang, meski sudah memiliki Kenny Tete dan Timothy Castagne.
- Bek berusia 28 tahun itu mencatat rata-rata 1,7 intersepsi per 90 menit musim ini, lebih tinggi dari pemain Fulham mana pun kecuali Antonee Robinson.
Fulham dikabarkan siap memanfaatkan situasi sulit West Ham United yang baru saja terdegradasi ke Championship dengan mengincar bek kanan Aaron Wan-Bissaka. Klub asal London barat itu disebut bersedia melepas pemain berusia 28 tahun tersebut dengan banderol sekitar Β£10 juta atau setara Rp200 miliar, angka yang tergolong murah untuk pemain berpengalaman di Premier League.
West Ham harus menerima kenyataan pahit setelah finis di peringkat 18 klasemen akhir musim 2025/2026, meski pada laga terakhir mereka menekuk Leeds United 3-0. Hasil Tottenham Hotspur yang mengalahkan Everton 1-0 memastikan The Hammers harus bermain di kasta kedua musim depan. Kondisi finansial klub pun disebut sangat menantang, seperti diungkapkan pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire. Menurutnya, pemilik klub David Sullivan dan Daniel Kretinsky mungkin harus menjadi sumber dana utama selain penjualan pemain, karena beberapa pemain West Ham masih diminati klub Premier League lain.
Selain Wan-Bissaka, dua nama lain yang masuk daftar jual adalah Jarrod Bowen dan El Hadji Malick Diouf, dengan Crystal Palace disebut sebagai salah satu peminat. Namun, Fulham lebih dulu bergerak untuk mengamankan jasa mantan pemain Manchester United itu. Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian masa depan pelatih Marco Silva yang masih belum jelas akan bertahan atau hengkang.
Keputusan Fulham mendekati Wan-Bissaka terbilang menarik karena posisi bek kanan sebenarnya sudah diisi oleh Kenny Tete dan Timothy Castagne. Namun, kontrak Castagne akan habis pada akhir musim depan, sehingga kebutuhan akan pemain baru di posisi itu mulai mendesak. Apalagi, Wan-Bissaka dinilai sebagai pemain yang "luar biasa" oleh kreator konten Dev Bajwa, dan kemampuannya merebut bola menjadi nilai jual utama. Musim ini, ia mencatat rata-rata 1,7 intersepsi per 90 menit, lebih baik dari sebagian besar pemain Fulham.
Bagi Fulham, merekrut Wan-Bissaka bukan hanya soal memperkuat pertahanan, tetapi juga investasi jangka pendek yang menguntungkan. Pengalamannya di Premier League bersama Manchester United, Crystal Palace, dan West Ham membuatnya siap bersaing di level tertinggi. Di sisi lain, West Ham terpaksa melepasnya karena beban gaji yang tinggi di tengah penurunan pendapatan akibat degradasi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pergerakan Fulham ini bisa menjadi contoh bagaimana klub papan tengah Premier League memanfaatkan peluang di bursa transfer. Dengan harga yang relatif murah, Fulham berpotensi mendapatkan pemain berkualitas yang bisa menjadi andalan di musim depan. Pertanyaannya, mampukah Wan-Bissaka kembali ke performa terbaiknya setelah musim yang sulit bersama West Ham? Atau justru Fulham akan kebanjiran pemain di posisi yang sama jika Tete dan Castagne bertahan?



