Pep Guardiola ke Timnas Italia? Antara Mimpi dan Realitas di Tengah Krisis Azzurri
Baca dalam 60 detik
- Pep Guardiola masuk bursa calon pelatih Italia setelah Azzurri gagal lolos Piala Dunia ketiga kali berturut-turut.
- Legenda Italia, Leonardo Bonucci, mendukung ide tersebut, namun Fabio Capello meragukan kesesuaian Guardiola untuk sepak bola tim nasional.
- FIGC akan menunjuk pelatih baru setelah pemilihan presiden pada 22 Juni 2026, dengan Conte, Ranieri, Allegri, dan Mancini sebagai favorit.

Nama Pep Guardiola mencuat sebagai salah satu kandidat pelatih Timnas Italia setelah kegagalan beruntun Azzurri melaju ke Piala Dunia. Spekulasi ini memicu perdebatan sengit di kalangan media dan pengamat sepak bola Italia, antara harapan akan perubahan radikal dan skeptisisme terhadap kesesuaian gaya kepelatihan Guardiola di level internasional.
Guardiola resmi meninggalkan Manchester City setelah satu dekade penuh gelar, meninggalkan kursi pelatih kepada asistennya, Enzo Maresca. Kini, ia dikaitkan dengan tugas berat membangkitkan Italia yang kembali gagal di babak play-off Piala Dunia setelah kalah dari Bosnia dan Herzegovina pada Maret lalu. Ini adalah kali ketiga berturut-turut Italia absen dari turnamen paling bergengsi tersebut, terakhir kali tampil pada 2014 di Brasil.
Mantan bek Italia, Leonardo Bonucci, yang sempat menjadi asisten Gennaro Gattuso, menyambut hangat kemungkinan tersebut. Menurutnya, mendatangkan Guardiola berarti melakukan perubahan drastis dari masa lalu. "Bermimpi tidak ada salahnya," ujar Bonucci, seperti dikutip Gazzetta dello Sport. Namun, ia juga mengakui bahwa mewujudkannya sangat sulit.
Namun, tidak semua pihak sepakat. Legenda pelatih Italia, Fabio Capello, memberikan pandangan berbeda. Menurut Capello, melatih tim nasional sangat berbeda dengan klub. "Anda tidak bekerja dengan tim setiap hari. Anda bukan pelatih, Anda adalah pemilih," tegas Capello. Ia menyoroti bahwa Guardiola terbiasa dengan kebebasan membeli pemain sesuai kebutuhan, sementara di tim nasional ia harus meracik skuad dari pemain yang tersedia. "Banyak pemain yang ketika memakai jersey Italia justru menegang," tambahnya.
Capello mengakui Guardiola adalah pelatih hebat dengan segudang prestasi, tetapi ia meragukan efektivitasnya jika tidak bisa beradaptasi dengan keterbatasan sumber daya manusia. "Dia orang cerdas, mungkin dia akan langsung paham cara mengatasinya," ujar Capello, memberi sedikit ruang optimisme.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisruh ini menarik karena menunjukkan betapa sulitnya membangun tim nasional yang konsisten, bahkan bagi negara sekelas Italia. Pelajaran berharga bisa diambil: kesuksesan di level klub tidak otomatis menjamin keberhasilan di tim nasional. Indonesia sendiri tengah berbenah di bawah pelatih asing, dan kasus Guardiola bisa menjadi bahan renungan tentang pentingnya kecocokan filosofi dan karakter pelatih dengan kultur tim.
FIGC dijadwalkan menunjuk pelatih baru setelah pemilihan presiden pada 22 Juni 2026. Saat ini, nama-nama seperti Antonio Conte, Claudio Ranieri, Massimiliano Allegri, dan Roberto Mancini disebut-sebut sebagai kandidat utama. Guardiola sendiri dianggap sebagai kandidat yang tidak realistis, namun kehadirannya dalam bursa calon pelatih sudah cukup memicu diskusi hangat tentang masa depan sepak bola Italia. Akankah Federasi mengambil risiko besar dengan mendatangkan pelatih asing pertama sejak 1970-an, atau memilih kembali pada pelatih lokal yang lebih memahami dinamika internal?



