PSG Juara Liga Champions Usai Kalahkan Arsenal Lewat Adu Penalti, Calafiori Tak Dimainkan
Baca dalam 60 detik
- Paris Saint-Germain mengulang sukses musim lalu dengan menaklukkan Arsenal di final Liga Champions melalui adu penalti setelah skor 1-1.
- Riccardo Calafiori, bek Italia milik Arsenal, hanya menjadi penonton sepanjang laga final di Budapest.
- Gabriel Jesus menjadi pahlawan kesialan setelah tendangan penaltinya melambung dan memastikan PSG juara.

Paris Saint-Germain (PSG) berhasil mempertahankan gelar juara Liga Champions setelah mengalahkan Arsenal melalui adu penalti dengan skor 4-3 di Budapest, Minggu (31/5) dini hari WIB. Pertandingan yang berlangsung sengit itu harus berakhir imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu, sebelum PSG keluar sebagai pemenang. Kekalahan ini menjadi pahit bagi Arsenal, yang sebelumnya tak terkalahkan sepanjang turnamen, dan khususnya bagi bek Italia Riccardo Calafiori yang hanya duduk di bangku cadangan.
Arsenal sebenarnya memulai laga dengan gemilang. Hanya butuh lima menit bagi The Gunners untuk membuka keunggulan melalui Kai Havertz. Berawal dari tekanan Leandro Trossard yang memaksa Marquinhos melakukan kesalahan, bola jatuh ke kaki Havertz yang dengan tenang menaklukkan kiper PSG, Safonov, dari sudut sempit. Gol cepat itu membuat Arsenal unggul dan sempat mengendalikan jalannya pertandingan.
Namun, PSG yang dilatih Luis Enrique perlahan bangkit. Dominasi penguasaan bola mereka akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-35. Khvicha Kvaratskhelia dilanggar oleh Cristhian Mosquera di kotak penalti, dan wasit menunjuk titik putih. Ousmane Dembele yang menjadi algojo sukses mengeksekusi penalti untuk menyamakan kedudukan. Menariknya, Mosquera luput dari kartu kuning kedua yang seharusnya ia terima.
Memasuki babak kedua, kedua tim saling jual beli serangan. Kvaratskhelia nyaris membawa PSG unggul pada menit ke-78, namun sepakannya membentur tiang setelah mengenai Myles Lewis-Skelly. Di sisi lain, peluang emas juga dimiliki Arsenal melalui Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli, namun kiper Safonov tampil gemilang. Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal usai, memaksa laga dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.
Di babak perpanjangan waktu, Arsenal harus bermain dengan satu pemain yang cedera. Piero Hincapié mengalami masalah otot, namun karena Arsenal sudah melakukan tiga kali pergantian pemain, ia terpaksa bertahan di lapangan meski terlihat pincang. Peluang terbaik Arsenal datang dari Jurrien Timber yang sepakannya hanya mengenai sisi gawang. Sementara itu, PSG juga gagal memanfaatkan beberapa peluang, termasuk sundulan Pacho yang masih melambung.
Pertandingan akhirnya ditentukan melalui adu penalti. Dalam drama tos-tosan, Eberechi Eze menjadi algojo pertama Arsenal yang gagal setelah tendangannya melebar. Namun, kiper David Raya mampu menahan tendangan Nuno Mendes, memberi harapan bagi Arsenal. Sayangnya, Gabriel Jesus yang menjadi eksekutor kelima gagal memanfaatkan kesempatan tersebut. Tendangannya melambung tinggi ke arah tribun penonton PSG, memastikan kemenangan bagi tim asal Prancis itu.
Bagi Arsenal, kekalahan ini tentu sangat menyakitkan. Mereka baru saja mengakhiri puasa gelar Premier League selama 22 tahun, namun gagal mengangkat trofi Liga Champions. Sementara itu, PSG berhasil mempertahankan gelar juara yang diraih musim lalu setelah mengalahkan Inter Milan 5-0. Keberhasilan ini juga menjadi bukti konsistensi Luis Enrique dalam membangun tim yang tangguh di panggung Eropa.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, final ini menyajikan tontonan berkualitas tinggi. Dominasi PSG yang khas dan kegigihan Arsenal menjadi pelajaran berharga. Pertanyaannya, mampukah Arsenal musim depan kembali bersaing di level tertinggi Eropa, atau justru PSG akan mendominasi dalam beberapa tahun ke depan?



