Serangan Israel ke Lebanon: Ujian bagi Diplomasi Trump dengan Iran
Baca dalam 60 detik
- Israel melancarkan serangan udara ke Lebanon untuk melemahkan Hizbullah, meski ada tekanan AS agar tak mengganggu perundingan damai dengan Iran.
- Teheran menjadikan gencatan senjata serentak di Teluk dan Lebanon sebagai syarat utama, namun Israel menunjukkan keengganan memenuhi tuntutan itu.
- Para analis menilai Netanyahu tidak akan tunduk pada tekanan Trump dan akan terus menekan Hizbullah hingga kelompok itu benar-benar lemah.

Serangan militer Israel yang semakin intensif ke Lebanon pekan ini menempatkan perundingan damai Amerika Serikat-Iran dalam posisi genting. Meski Gedung Putih mendesak agar gencatan senjata di Gaza dan Lebanon menjadi prioritas, langkah Tel Aviv justru menunjukkan arah sebaliknya: memperlemah Hizbullah dengan segala cara.
Pada Selasa (18/3), jet tempur Israel menghujani sejumlah target di Lebanon selatan dan timur, yang diklaim sebagai basis operasi Hizbullah. Serangan itu terjadi di tengah upaya Washington merangkul Teheran dalam dialog bilateral yang belum pernah terjadi dalam satu dekade terakhir. Bagi Iran, penghentian permusuhan secara simultan di kawasan Teluk dan Lebanon adalah prasyarat mutlak. Namun, serangan Israel justru mengirim sinyal bahwa kesepakatan semacam itu tidak akan dihormati.
Kenneth Katzman, analis senior Timur Tengah di The Soufan Centre, New York, menilai bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak akan gentar meskipun Presiden AS Donald Trump menekannya. โTrump, apa pun yang ia sepakati dengan Iran, tidak akan mampu memaksa Netanyahu atau penerusnya untuk membiarkan Hizbullah kembali kuat di Lebanon,โ ujar Katzman. Menurutnya, pemerintah Israel menganggap Hizbullah sebagai ancaman eksistensial yang harus terus dilumpuhkan, dan mereka tidak merasa terikat oleh perundingan AS-Iran.
Washington sendiri memberikan lampu hijau atas operasi militer Israel. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebutnya sebagai โhak bela diriโ Israel terhadap kampanye drone Hizbullah yang dinilai mengancam keamanan perbatasan utara. Dukungan ini menimbulkan paradoks: di satu sisi Trump mendorong diplomasi dengan Iran, di sisi lain sekutunya di Timur Tengah justru melancarkan aksi yang bisa menggagalkan dialog tersebut.
Bagi Indonesia, eskalasi ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Jakarta selama ini mendorong solusi damai di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi beberapa kali menekankan pentingnya menghentikan siklus kekerasan di Lebanon dan Gaza. Namun, dengan memburuknya situasi, posisi Indonesia dalam forum-forum multilateral seperti OKI dan PBB bisa semakin sulit, terutama jika harus memilih antara mendukung hak bela diri Israel atau solidaritas terhadap Palestina dan Lebanon.
Para pengamat memperkirakan bahwa Netanyahu akan terus memanfaatkan jendela kesempatan sebelum tekanan internasional benar-benar mengikat. โIsrael melihat momen ini sebagai kesempatan emas untuk menetralisir Hizbullah, sementara Iran masih terfokus pada negosiasi dengan AS,โ kata Katzman. Pertanyaannya, berapa lama Trump bersedia menoleransi langkah sekutunya yang justru merusak agenda diplomasinya sendiri?



