Komandan Pasukan AS di Korsela Sebut Seoul 'Belati di Jantung Asia', Beijing Murka
Baca dalam 60 detik
- Pernyataan kontroversial Komandan USFK Xavier Brunson yang menyebut Korea Selatan sebagai 'belati di jantung Asia' memicu ketegangan diplomatik antara Beijing dan Seoul.
- Pemerintah Korea Selatan mengaku telah berkomunikasi dengan AS terkait pernyataan tersebut, namun menolak merinci isi pembicaraan.
- Retorika militeristik ini muncul di tengah spekulasi perluasan peran USFK dalam menghadapi pengaruh China yang kian besar di kawasan.

Kantor kepresidenan Korea Selatan, Blue House, mengonfirmasi bahwa Seoul dan Washington tengah berdiskusi intensif terkait pernyataan kontroversial Komandan Pasukan Amerika Serikat di Korea (USFK), Jenderal Xavier Brunson. Dalam wawancara dengan sebuah siniar, Brunson menyebut Korea Selatan sebagai "belati di jantung Asia" yang mengancam China dari pesisir timurnya. Ucapan itu langsung menuai kecaman keras dari Kedutaan Besar China di Seoul.
Pernyataan Brunson muncul di tengah meningkatnya spekulasi bahwa Washington berniat memperluas peran USFKโyang saat ini berkekuatan sekitar 28.500 personelโuntuk mengimbangi pengaruh regional China yang kian meluas. China sendiri merupakan sekutu utama Korea Utara dan Rusia, dua negara yang kerap berseberangan dengan kepentingan AS di kawasan. Dalam forum pertahanan di Singapura, Brunson menegaskan bahwa ucapannya hanya dimaksudkan untuk menggambarkan lingkungan operasional militer, bukan sebagai pernyataan politik. Ia juga menyambut baik pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing beberapa waktu lalu.
Sejumlah media lokal Korea Selatan, seperti News1 dan JTBC, melaporkan bahwa kantor kepresidenan telah menyampaikan keluhan kepada pihak AS sebanyak sepuluh kali terkait pernyataan serupa sebelumnya. Namun, Blue House menolak mengonfirmasi detail pertemuan diplomatik dan keamanan yang telah berlangsung. Sikap ini menunjukkan adanya kehati-hatian Seoul dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan dua kekuatan besar, AS dan China.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara yang secara konsisten menganut politik bebas aktif, Indonesia berkepentingan agar stabilitas kawasan tidak terganggu oleh retorika militeristik yang dapat memicu ketegangan baru. Apalagi, Indonesia juga memiliki hubungan dagang yang erat dengan China dan kerja sama pertahanan dengan AS. Setiap eskalasi di Semenanjung Korea berpotensi mempengaruhi arus perdagangan dan investasi di Asia Tenggara.
"Apa yang saya katakan adalah upaya untuk menggambarkan lingkungan operasi, karena sangat penting untuk bisa mendeskripsikan tempat kita bekerja," ujar Brunson di Singapura, membela pernyataannya.
Kritik China tidak hanya menyasar isi pernyataan, tetapi juga nada agresif yang ditunjukkan. Juru bicara Kedutaan Besar China di Seoul mempertanyakan apakah pernyataan tersebut telah mendapat otorisasi dari Pentagon. "Dengan menyebut negara tuan rumah sebagai 'kapal induk' atau 'belati' atau alat perang lainnya, apakah Anda hanya menunjukkan sikap agresif Anda, ataukah Anda berusaha menggunakan negara lain sebagai pion?" demikian pernyataan resmi yang dirilis di situs kedutaan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Washington akan mengklarifikasi atau justru mempertegas posisi Brunson. Jika pernyataan tersebut merupakan bagian dari strategi baru AS di Asia Timur, maka Korea Selatan harus bersiap menghadapi tekanan ganda: dari China yang menuntut klarifikasi, dan dari AS yang mungkin meminta dukungan lebih besar dalam kontestasi regional. Sementara itu, Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya akan terus memantau perkembangan ini dengan saksama, mengingat dampaknya terhadap arsitektur keamanan kawasan yang lebih luas.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7594046/original/008081400_1780376916-WhatsApp_Image_2026-06-02_at_11.37.09.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7513600/original/077726100_1780285828-Megawati_Gandeng_Prabowo.jpeg)