Derita Pekerja Migran Filipina: Dekade Terpisah demi Masa Depan Anak
Baca dalam 60 detik
- Ratusan ribu pekerja migran Filipina terpaksa menjalani hidup terpisah dari keluarga demi penghasilan lebih tinggi di luar negeri.
- Pengorbanan ini menimbulkan dampak psikologis jangka panjang, terutama pada anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran orangtua.
- Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, di mana pekerja migran kerap menghadapi dilema antara kebutuhan ekonomi dan ikatan keluarga.

Selama lebih dari satu dekade, Jeffrey Ongoco hanya bisa menyaksikan tumbuh kembang putrinya melalui layar ponsel. Ia dan istrinya bekerja di Doha, Qatar, sementara anak mereka yang kini berusia 16 tahun tinggal di Bataan, Filipina, diasuh oleh kerabat. Ongoco bukanlah pengecualian—ia adalah satu dari jutaan pekerja migran Filipina yang setiap hari mempertaruhkan kebersamaan keluarga demi secercah harapan ekonomi yang lebih baik.
“Sebagai orangtua, kami tidak ingin anak-anak mengalami kesulitan seperti yang kami alami dulu. Meskipun sangat berat berpisah, kami akan melakukan apa pun demi masa depan mereka,” ujar Ongoco dalam wawancara dengan media setempat. Kisahnya menjadi cermin pahit dari realitas pekerja migran global: pendapatan lebih tinggi sering kali dibayar dengan kerinduan dan keterasingan yang tak terukur.
Fenomena ini bukan monopoli Filipina. Di Indonesia, lebih dari 4,5 juta pekerja migran Indonesia (PMI) tersebar di berbagai negara, dengan sebagian besar meninggalkan suami, istri, atau anak-anak di kampung halaman. Data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menunjukkan bahwa angka pengiriman uang (remitansi) dari PMI mencapai Rp159,6 triliun pada 2022, menjadi salah satu penopang devisa negara. Namun, di balik angka itu, terdapat biaya sosial yang tak tercatat: anak-anak yang tumbuh tanpa figur orangtua, pernikahan yang renggang, dan trauma psikologis yang menahun.
Para ahli menyebut situasi ini sebagai “migrasi paksa” akibat minimnya lapangan kerja layak di negara asal. Menurut ekonom dari Universitas Filipina, Dr. Maria Socorro Gochoco-Bautista, “Pemerintah harus menciptakan ekosistem ekonomi yang memungkinkan warganya tidak perlu memilih antara perut dan keluarga.” Pernyataan itu relevan pula bagi Indonesia, di mana sektor industri padat karya belum mampu menyerap seluruh angkatan kerja yang tumbuh 2,5 juta per tahun.
Dampak psikologis dari perpisahan jangka panjang mulai mendapat perhatian serius. Sebuah studi tahun 2023 oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO) menemukan bahwa 40% pekerja migran di Asia Tenggara mengalami gejala kecemasan dan depresi akibat isolasi sosial. Anak-anak yang ditinggalkan juga rentan mengalami gangguan perilaku dan prestasi akademik yang menurun. Di Filipina, program konseling jarak jauh mulai digalakkan, namun akses masih terbatas.
Ke depan, pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh negara-negara pengirim migran adalah: bagaimana menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan hak anak untuk tumbuh dalam lingkungan keluarga utuh? Apakah remitansi benar-benar sepadan dengan harga psikologis yang harus dibayar? Tanpa kebijakan yang berpihak pada penguatan ekonomi domestik dan perlindungan sosial, kisah Jeffrey Ongoco mungkin akan terus terulang di ribuan rumah tangga lain di Filipina dan Indonesia.



