Idul Adha Diguncang Gempa Magnitudo 4,4 di Gayo Lues, Aceh
Baca dalam 60 detik
- Satu gempa bumi tercatat pada Rabu (27/5) di Gayo Lues, Aceh, dengan magnitudo 4,4 dan kedalaman sangat dangkal 4 km.
- Guncangan dirasakan hingga skala MMI III di Aceh Tamiang dan II di Langsa serta Aceh Tengah, tanpa laporan kerusakan berarti.
- Peristiwa ini mengingatkan kembali pada kerentanan Indonesia sebagai wilayah rawan gempa, dengan lebih dari 125 juta orang terdampak secara global dalam dua dekade terakhir.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7108907/original/085822200_1779892182-Gempa_Idul_Adha.jpeg)
Pada hari raya Idul Adha, Rabu (27/5/2026), pukul 02:49 WIB, gempa berkekuatan magnitudo 4,4 mengguncang wilayah Gayo Lues, Provinsi Aceh, dengan pusat gempa di darat hanya 20 kilometer timur laut kota tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa memiliki kedalaman sangat dangkal, hanya 4 kilometer. Episenter berada pada koordinat 4,12 Lintang Utara dan 97,48 Bujur Timur. Guncangan terasa pada skala Modified Mercalli Intensity (MMI) III di Aceh Tamiang, serta MMI II di Langsa dan Aceh Tengah. Skala MMI II berarti getaran dirasakan oleh beberapa orang, sementara MMI III menandakan getaran nyata di dalam rumah seperti truk melintas.
Hingga pukul 21.00 WIB, BMKG hanya mencatat satu kali kejadian gempa di Indonesia pada hari tersebut. Tidak ada laporan kerusakan bangunan atau korban jiwa, namun gempa dangkal seperti ini tetap berpotensi memicu kerusakan jika terjadi di permukiman padat.
Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, menjadikannya salah satu negara paling rawan gempa di dunia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), secara global gempa bumi menyebabkan sekitar 750.000 kematian antara 1998 hingga 2017, dan lebih dari 125 juta orang terkena dampak langsung. Bagi Indonesia, angka tersebut menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa gempa dangkal seperti ini sering kali disebabkan oleh aktivitas patahan aktif. "Masyarakat di wilayah rawan gempa harus selalu waspada dan memahami prosedur evakuasi mandiri," ujarnya. Meski gempa tidak dapat dicegah, mitigasi melalui edukasi dan infrastruktur tahan gempa dapat mengurangi risiko.
Pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mendorong program sosialisasi tanggap bencana, termasuk latihan evakuasi dan penyediaan jalur aman. Namun, masih banyak wilayah yang belum memiliki sistem peringatan dini yang memadai untuk gempa dengan waktu tiba sangat singkat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah Indonesia sudah cukup siap menghadapi gempa besar berikutnya? Dengan frekuensi gempa yang terus terjadi, kesenjangan antara kesiapsiagaan dan realitas di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.



