JAL Kembali Diguncang Insiden Alkohol: Pramugari Terdeteksi Mabuk, Penerbangan Tertunda
Baca dalam 60 detik
- Japan Airlines menunda penerbangan Hiroshima-Tokyo setelah seorang pramugari kedapatan mengonsumsi alkohol melebihi batas perusahaan.
- Insiden ini menambah panjang daftar skandal alkohol di JAL, termasuk kasus pilot yang menyembunyikan konsumsi alkohol pada 2024.
- JAL berjanji memperketat pencegahan, namun reputasi maskapai dipertaruhkan di tengah persaingan ketat industri penerbangan Asia.

Japan Airlines (JAL) kembali diterpa masalah disiplin setelah seorang pramugari kedapatan mengonsumsi alkohol melebihi ketentuan perusahaan, menyebabkan penundaan penerbangan rute Hiroshima menuju Bandara Haneda, Tokyo, pada Sabtu (25/5) lalu. Pesawat yang sedianya lepas landas pukul 07.40 waktu setempat dengan 186 penumpang itu baru bisa mengudara 42 menit lebih lambat, setelah kru yang bersangkutan digantikan secara mendadak.
Maskapai nasional Jepang itu mengungkapkan bahwa pramugari tersebut sempat keluar bersama rekan kerjanya pada malam sebelumnya dan mengonsumsi alkohol dalam jumlah yang melanggar aturan internal. Rekan yang juga dijadwalkan bertugas dalam penerbangan yang sama dilaporkan telah memberitahu perusahaan lebih awal sehingga ditarik dari jadwal. Langkah ini diambil untuk meminimalkan risiko keselamatan, meski tetap berdampak pada ketepatan waktu penerbangan.
Insiden terbaru ini bukan yang pertama kali menimpa JAL. Dalam beberapa tahun terakhir, maskapai yang berbasis di Tokyo itu menghadapi serangkaian skandal serupa. Pada 2024, seorang kapten dan kopilot tertangkap berusaha menyembunyikan fakta bahwa mereka minum alkohol sebelum menerbangkan pesawat dari Melbourne, Australia, menuju Narita. Setahun kemudian, sebuah penerbangan dari Honolulu ke Jepang tertunda lebih dari 18 jam setelah pilot dinyatakan positif alkohol. Dua penerbangan lain juga mengalami keterlambatan akibat kasus serupa.
Menanggapi kejadian berulang ini, JAL mengeluarkan pernyataan resmi pada Rabu (28/5) yang mengakui bahwa "banyak insiden terkait alkohol telah menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap perusahaan kami." Maskapai berjanji akan "terus memperkuat langkah-langkah pencegahan" dan menangani masalah ini dengan sangat serius. Namun, pernyataan serupa juga pernah disampaikan setelah skandal sebelumnya, menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas kebijakan internal JAL.
Bagi industri penerbangan Indonesia, kasus JAL menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap konsumsi alkohol kru. Di Indonesia, aturan serupa diterapkan oleh maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air, dengan sanksi tegas bagi pelanggar. Meski insiden alkohol jarang terjadi di dalam negeri, kasus JAL menunjukkan bahwa kelengahan sekecil apa pun bisa berdampak besar pada reputasi dan keselamatan. Regulator penerbangan Indonesia, seperti Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, kemungkinan akan memperketat inspeksi mendadak menyusul pemberitaan ini.
Ke depan, JAL menghadapi tantangan berat untuk memulihkan kepercayaan publik. Dengan persaingan ketat dari maskapai berbiaya rendah dan operator asing, setiap insiden keselamatan bisa menjadi bumerang bisnis. Apakah langkah pencegahan yang dijanjikan JAL cukup untuk menghentikan kebiasaan buruk ini, atau justru akan ada konsekuensi lebih serius seperti pencabutan izin rute? Publik penerbangan Asia akan mengawasi dengan saksama.



