IHSG Terperosok 1,15% Jelang Libur Idul Adha, Terseret Aksi Jual Saham Blue Chip
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan ambles 71,11 poin ke 6.135,24 pada sesi pertama perdagangan Selasa (26/5/2026), dipimpin koreksi saham BBCA, BBRI, dan ASII.
- Libur panjang Idul Adha diperkirakan memicu sikap wait and see investor, sementara negosiasi AS-Iran yang mulai maju menekan harga minyak global.
- Pasar Asia bergerak mixed: Korsel cetak rekor baru, namun Jepang dan Australia terkoreksi karena aksi ambil untung.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok pada perdagangan Selasa (26/5/2026) dan terus tertekan hingga akhir sesi pertama, kehilangan 71,11 poin atau 1,15% ke level 6.135,24. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya sentimen wait and see investor menjelang libur panjang Idul Adha, yang akan menutup pasar keuangan pada Rabu dan Kamis.
Sepanjang sesi pertama, IHSG bergerak fluktuatif di rentang 6.132,57 hingga 6.286,87. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp8,31 triliun dengan volume 14,01 miliar saham dan frekuensi 1,09 juta kali transaksi. Sebanyak 240 saham berhasil menguat, namun 419 saham lainnya tertekan dan 153 saham stagnan, menunjukkan dominasi aksi jual.
Mayoritas sektor mengalami koreksi, dengan sektor konsumer primer, energi, dan finansial menjadi yang paling tertekan. Emiten berkapitalisasi besar seperti Bank Central Asia (BBCA) menjadi pemberat utama IHSG, menyumbang pelemahan 11,72 poin. Disusul oleh BBRI dan ASII yang turut menekan indeks. Aksi jual terhadap saham-saham blue chip ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian pasar domestik dan global.
Di sisi global, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Doha mulai menunjukkan kemajuan, termasuk pembahasan pembukaan kembali Selat Hormuz dan isu nuklir Iran. Namun, kedua pihak masih belum yakin kesepakatan dapat tercapai dalam waktu dekat. Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan berjalan baik, namun memperingatkan kemungkinan serangan jika negosiasi gagal. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan diplomasi tetap menjadi prioritas. Perkembangan ini mendorong harga minyak mentah turun signifikan: Brent melemah 7% ke US$96,14 per barel dan WTI turun lebih dari 6% ke US$90,30 per barel.
Bagi investor Indonesia, penurunan harga minyak global dapat menjadi angin segar bagi emiten yang bergantung pada bahan baku energi, namun juga menekan sektor energi yang menjadi salah satu pemberat IHSG hari ini. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah masih belum mereda sepenuhnya. Israel terus meningkatkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon, sementara Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman di Teluk Persia. Situasi ini sebelumnya sempat memicu lonjakan harga minyak dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz, yang berdampak pada rantai pasok global.
Bursa Asia bergerak variatif pada perdagangan pagi ini. Indeks utama Korea Selatan mencetak rekor baru dengan melesat ke level tertinggi sepanjang masa di 8.094,90, sementara indeks Kosdaq menguat 2,12%. Sebaliknya, Nikkei 225 Jepang turun 0,18% setelah sehari sebelumnya menembus level psikologis 65.000 untuk pertama kalinya. Indeks Topix juga melemah 0,36% di tengah aksi ambil untung investor. Australia mencatat koreksi 0,17% pada S&P/ASX 200, dan futures Hang Seng Hong Kong bergerak lebih rendah.
Dengan libur panjang Idul Adha yang membuat pasar tutup selama dua hari, investor diperkirakan akan kembali mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran dan data ekonomi global pada Jumat mendatang. Pertanyaan besarnya, apakah reli harga minyak yang sempat terjadi akibat ketegangan geopolitik akan berbalik arah jika kesepakatan damai tercapai, atau justru konflik berkepanjangan kembali menekan pasar saham Indonesia?



