Pohon Tertua di Dunia Berusia 5.484 Tahun Terancam Punah Akibat Perubahan Iklim dan Wisatawan
Baca dalam 60 detik
- Lañilawal, cemara Patagonia di Chile, diperkirakan berusia 5.484 tahun, melampaui rekor Methuselah sebagai pohon tertua di dunia.
- Hanya 28% bagian pohon yang masih hidup, terutama sistem akar, dan terancam oleh aktivitas pengunjung serta kekeringan akibat perubahan iklim.
- Peneliti mendesak pembatasan akses dan perlindungan ketat, namun validitas usianya masih diperdebatkan karena belum melalui peer review.

Sejak sebelum Piramida Giza dibangun, sebuah benih cemara Patagonia telah tumbuh di lembah lembab di selatan Chile. Kini, pohon yang dikenal sebagai Lañilawal atau Gran Abuelo itu diperkirakan berusia 5.484 tahun, menjadikannya kandidat pohon tertua yang masih hidup di Bumi. Namun, di balik usianya yang mencengangkan, pohon setinggi 30 meter dengan diameter batang lebih dari empat meter ini berada dalam kondisi kritis dan terancam mati.
Peneliti Jonathan Barichivich, yang kakeknya menemukan pohon ini pada 1972, bersama koleganya Antonio Lara dari Universitas Austral Chile, menggunakan pemodelan statistik untuk memperkirakan usia Lañilawal. Mereka mengebor 40% diameter batang dan menemukan sekitar 2.400 cincin pertumbuhan, lalu mengekstrapolasi dengan data iklim historis. Hasilnya menunjukkan probabilitas 80% pohon ini berusia di atas 5.000 tahun, dengan estimasi terbaik 5.484 tahun — lebih tua 600 tahun dari Methuselah, pohon pinus bristlecone di California yang memegang rekor resmi 4.853 tahun.
Meskipun potensi rekor dunia, temuan ini belum dipublikasikan di jurnal peer-review per 2026, sehingga menuai skeptisisme dari komunitas dendrokronologi. Chuck Cannon dari Morton Arboretum mengingatkan bahwa pohon bisa menghasilkan lebih dari satu cincin per tahun dalam kondisi tertentu, sementara Peter Brown, pendiri Rocky Mountain Tree Ring Research, menyebut kesimpulan itu terlalu mengejutkan karena melompati 1.500 tahun dari catatan alerce tertua sebelumnya.
Ancaman terbesar saat ini bukan hanya perdebatan ilmiah, melainkan kondisi fisik pohon yang rentan. Barichivich memperingatkan bahwa hanya 28% dari pohon yang masih hidup, terutama sistem akar yang tersebar di bawah tanah. Pengunjung taman nasional sering berjalan di sekitar pangkal batang, memadatkan tanah dan merusak akar yang menyerap air. Meskipun sudah ada platform kayu, banyak wisatawan mengabaikannya. Selain itu, perubahan iklim menyebabkan kekeringan di wilayah selatan Chile, membuat tanah semakin kering dan sulit bagi akar untuk mendapatkan air.
Barichivich dan koleganya mendesak pihak taman untuk memindahkan jalur pejalan kaki lebih jauh, memasang pagar pelindung, dan membatasi jumlah pengunjung harian. Pablo Cunazza Mardones, kepala Departemen Kawasan Lindung Chile, mengakui pohon ini dalam kondisi rentan dan memerlukan perhatian khusus. Tanpa tindakan segera, pohon yang telah bertahan selama lima milenium ini mungkin tidak akan mampu bertahan beberapa dekade ke depan.



