Hoaks Seputar Penghentian Dolar AS: Pemerintah Justru Diversifikasi Lewat Panda Bond
Baca dalam 60 detik
- Klaim bahwa Indonesia berhenti menggunakan dolar AS dan beralih ke yuan China adalah informasi palsu yang telah dibantah oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan.
- Penerbitan Panda Bond berdenominasi yuan merupakan langkah diversifikasi sumber pembiayaan APBN, bukan penggantian mata uang transaksi internasional.
- Transaksi bilateral dengan mata uang lokal (LCT) memang meningkat, namun dolar AS masih mendominasi cadangan devisa dan transaksi global Indonesia.

Beredar luas di media sosial klaim yang menyatakan Indonesia resmi menghentikan penggunaan dolar Amerika Serikat dan beralih ke yuan China. Unggahan tersebut juga menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menerbitkan Panda Bond untuk memperkuat rupiah. Faktanya, informasi itu tidak benar dan menyesatkan.
Video yang diunggah akun Facebook โWarung Samudraโ pada 19 Mei 2026 menampilkan gambar Menteri Keuangan bersalaman dengan Presiden Xi Jinping, sementara di sisi kiri terdapat foto Donald Trump. Narasi dalam unggahan tersebut menyatakan Indonesia stop menggunakan dolar AS dan beralih ke yuan. Hingga 26 Mei 2026, unggahan itu telah mendapat 2.600 likes, 161 komentar, dan ditonton lebih dari 209 ribu kali. Sebagian warganet percaya dan bersyukur, namun tak sedikit yang meragukan kebenarannya.
Tim verifikasi LyndHub melakukan penelusuran dengan metode reverse image dan pencarian kata kunci. Hasilnya, tidak ditemukan satu pun pernyataan resmi dari pemerintah atau Bank Indonesia yang menyebut penghentian penggunaan dolar AS. Justru, BI menegaskan bahwa transaksi internasional Indonesia masih didominasi dolar AS. Meskipun sistem Local Currency Transaction (LCT) meningkat dua kali lipat menjadi USD25,72 miliar pada akhir 2025, angka tersebut masih jauh lebih kecil dibanding transaksi berbasis dolar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memang menargetkan penerbitan surat utang global berdenominasi yuan atau Panda Bond pada Juni 2026. Namun, tujuan utama langkah ini adalah diversifikasi sumber pembiayaan agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak bergantung pada satu sumber, seperti pasar Amerika Serikat atau negara Barat. "Kita tetap diversifikasi supaya nggak tergantung pada pembiayaan Amerika Serikat atau negara-negara Barat," ujar Purbaya dalam keterangan resmi.
China dipilih karena memiliki likuiditas memadai dan pasar keuangan berkapasitas besar yang mampu menyerap instrumen utang Indonesia. Selain itu, imbal hasil yang ditawarkan kompetitif. Pasar China juga dinilai memiliki kepercayaan kuat terhadap fundamental ekonomi Indonesia, sehingga penilaiannya tidak mudah terpengaruh peringkat kredit.
Bank Indonesia dalam siaran pers 13 April 2026 menegaskan bahwa cadangan devisa Indonesia masih dihitung dalam dolar AS. LCT memang diperluas untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam transaksi bilateral, namun bukan berarti meninggalkan mata uang AS sepenuhnya. Pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp17.630 per dolar AS lebih disebabkan oleh penguatan dolar global dan tekanan ekonomi internasional, bukan karena pergeseran kebijakan moneter.
Dengan demikian, klaim bahwa Indonesia berhenti menggunakan dolar AS dan beralih ke yuan adalah hoaks. Penerbitan Panda Bond adalah strategi diversifikasi pembiayaan, bukan penggantian mata uang transaksi. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi dan selalu merujuk pada sumber resmi.



