Telkom Bukukan Pendapatan Rp37,2 Triliun di Kuartal I-2026, Transformasi TLKM 30 Mulai Tampak Hasil
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan konsolidasi Telkom mencapai Rp37,2 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 1,5% year-on-year, dengan EBITDA margin 48,3%.
- Segmen B2C dan B2B Infrastructure menjadi motor pertumbuhan, sementara laba bersih terkontraksi akibat percepatan depresiasi non-cash.
- Telkom menargetkan peningkatan kontribusi bisnis fiber dari 15% menjadi 25% melalui pemisahan aset ke InfraNexia yang rampung kuartal III-2026.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun pada tiga bulan pertama 2026, tumbuh 1,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini menjadi sinyal awal bahwa strategi transformasi TLKM 30 mulai menunjukkan hasil di tengah tekanan makroekonomi yang masih membayangi industri telekomunikasi.
EBITDA perusahaan mencapai Rp18,0 triliun dengan margin 48,3%, sementara laba bersih tercatat Rp4,3 triliunโturun dibandingkan periode sebelumnya karena percepatan depresiasi dan normalisasi bisnis. Namun, Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa tekanan tersebut bersifat sementara dan non-cash. Arus kas operasional justru tumbuh 3,1% menjadi Rp17,3 triliun, didorong oleh efisiensi belanja modal dan perbaikan disiplin penagihan.
Segmen B2C yang digawangi Telkomsel masih menjadi penopang utama dengan pendapatan Rp27,6 triliun, naik 1,3% YoY. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan ARPU sebesar 6,4% menjadi Rp45.100, hasil dari disiplin harga dan penyederhanaan produk. Payload data juga meningkat 2,3% YoY, menandakan permintaan konektivitas yang terus menguat. Menurut Dian, internet telah menjadi kebutuhan primer sehingga prospek industri telekomunikasi masih cerah.
Sementara itu, segmen B2B Infrastructure mencatat pertumbuhan pendapatan 6,8% menjadi Rp2,4 triliun, didorong oleh ekspansi Fiber-to-the-Tower (FTTT) melalui Mitratel. Mitratel berhasil mempertahankan EBITDA margin di 82,7% dan menambah 1.080 km fiber optik, sehingga total kepemilikan mencapai 58.279 km. Langkah ini memperkuat posisi Mitratel sebagai pemimpin menara telekomunikasi di Asia Tenggara.
Di sisi lain, segmen B2B ICT yang tengah direstrukturisasi mencatat pendapatan Rp3,1 triliun. Aktivitas bisnis melandai karena pendekatan selektif dalam menjalin kerja sama baru. Namun, restrukturisasi ini diyakini akan memperbaiki margin dan menghilangkan tumpang tindih produk dalam jangka panjang.
Telkom juga mempercepat pemisahan bisnis wholesale fiber connectivity tahap kedua ke InfraNexia, yang ditargetkan rampung pada kuartal III-2026. Saat ini kontribusi bisnis fiber masih sekitar 15% dan ditargetkan naik menjadi 25% setelah optimalisasi utilisasi infrastruktur. Selain itu, divestasi AdMedika Group diharapkan selesai pada semester pertama 2026, membuka peluang pertumbuhan bagi entitas tersebut.
Bisnis data center melalui NeutraDC Group juga menjadi fokus. Konsolidasi aset data center diharapkan mampu mendorong monetisasi dan kolaborasi dengan mitra strategis, seiring meningkatnya permintaan dari pelaku industri digital.
Dengan belanja modal Rp4,9 triliun yang hampir seluruhnya dialokasikan untuk infrastruktur inti, Telkom optimistis dapat menyeimbangkan komposisi pendapatan antara segmen B2C dan B2B. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah Telkom mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah persaingan ketat dan perubahan teknologi yang cepat?



