Asing Net Sell Rp1,6 Triliun di Tengah IHSG Menguat: Saham Prajogo dan BBCA Paling Ditekan
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat penjualan bersih Rp1,6 triliun pada sesi I perdagangan, dengan total transaksi Rp16,6 triliun.
- Saham TPIA milik Prajogo Pangestu menjadi yang paling dijual asing, mencapai Rp920 miliar, diikuti BBCA Rp597 miliar.
- Aksi jual dipicu rebalancing indeks global dan profit taking akhir bulan, namun ASII dan saham Prajogo lainnya tetap diburu.

Investor asing kembali menunjukkan sikap wait-and-see di pasar saham Indonesia. Pada perdagangan sesi I, Jumat (29/5/2026), aksi jual bersih (net sell) asing mencapai Rp1,6 triliun, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melompat di awal sesi. Total transaksi asing tercatat Rp16,6 triliun, dengan foreign sell Rp9,1 triliun dan foreign buy Rp7,5 triliun.
Tekanan jual terbesar dialami saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu. PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) mencatat net foreign sell Rp920,3 miliar, menjadikannya yang paling tertekan. Disusul PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dengan net sell Rp597,1 miliar. Saham lain dari grup Prajogo, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), juga mengalami tekanan jual asing sebesar Rp61,8 miliar.
Fenomena ini menarik karena di saat yang sama, IHSG justru mencatat penguatan. Artinya, aksi jual asing tidak serta-merta menekan indeks secara keseluruhan, karena masih ada aliran dana domestik dan aksi beli asing di saham-saham tertentu. PT Astra International Tbk. (ASII) menjadi primadona dengan net foreign buy Rp95,1 miliar. Menariknya, dua saham Prajogo lainnya justru diburu asing: PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) sebesar Rp52,3 miliar dan PT Petrosea Tbk. (PTRO) Rp36,9 miliar.
Lonjakan transaksi asing ini tidak lepas dari sentimen global. Rebalancing indeks global dan aksi profit taking akhir bulan menjadi pemicu utama. Bagi investor Indonesia, pola ini sering terjadi menjelang akhir bulan atau kuartal, ketika manajer investasi asing menyesuaikan portofolio. Namun, besarnya net sell kali ini patut dicermati, terutama karena menyasar saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA dan TPIA.
Menurut analis pasar modal, aksi jual asing di BBCA bisa menjadi sinyal bahwa investor asing mulai mengurangi eksposur ke sektor perbankan, yang selama ini menjadi favorit. Sementara itu, tekanan di TPIA dan BREN menunjukkan sentimen negatif terhadap sektor energi dan petrokimia di tengah ketidakpastian harga komoditas global. Namun, aksi beli asing di BRPT dan PTRO mengindikasikan bahwa tidak semua saham grup Prajogo dihindari; ada selektivitas berdasarkan prospek bisnis masing-masing emiten.
Bagi investor ritel Indonesia, data ini memberikan gambaran penting: pergerakan asing tidak selalu seragam. Meskipun net sell besar terjadi, masih ada peluang akumulasi di saham-saham tertentu. Ke depan, perhatian akan tertuju pada kelanjutan aksi jual asing di sisa sesi perdagangan dan bagaimana IHSG merespons. Apakah tekanan jual akan mereda setelah rebalancing selesai, atau justru berlanjut karena faktor eksternal lain? Jawabannya akan menentukan arah pasar dalam beberapa pekan ke depan.



