Lebih dari 100 Juta Anak di Afrika Putus Sekolah: Krisis Pendidikan yang Kian Memburuk
Baca dalam 60 detik
- Jumlah anak dan remaja di Afrika yang tidak mengenyam pendidikan formal mencapai 100 juta jiwa pada 2025, meningkat dari 90 juta pada 2014.
- Kemunduran ini dipicu oleh menurunnya efektivitas subsidi pendidikan universal, berkurangnya bantuan donor, serta dampak berkepanjangan pandemi COVID-19.
- Tanpa intervensi yang tepat, kesenjangan gender dalam pendidikan diperkirakan melebar, mengancam pencapaian pembangunan manusia di kawasan.

Lebih dari 100 juta anak dan remaja di Afrika saat ini tidak bersekolah, dari total populasi usia sekolah yang mencapai 469 juta jiwa. Angka ini menandai kemunduran setelah sempat turun ke sekitar 90 juta pada 2014. Temuan tersebut merupakan hasil analisis tren selama 25 tahun yang dilakukan oleh Moses Ngware, pakar pendidikan dan pemberdayaan pemuda, bersama tim penelitinya.
Meskipun proporsi anak putus sekolah terhadap total populasi mengalami penurunan di semua jenjang—dari 37% menjadi 20% di sekolah dasar, 47% menjadi 35% di sekolah menengah pertama, dan 56% menjadi 47% di sekolah menengah atas—jumlah absolut yang tetap tinggi menunjukkan bahwa partisipasi sekolah tidak mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk yang mencapai 2,5% per tahun.
Negara-negara seperti Pantai Gading, Ethiopia, Guinea, Madagaskar, dan Mozambik mencatat perbaikan terbesar berkat kebijakan yang terarah, kemauan politik yang kuat, dan pendekatan multisektor. Strategi yang dijalankan mencakup bantuan tunai bersyarat, penyediaan makanan di sekolah, perluasan akses, serta penghapusan biaya pendidikan. Sebaliknya, Angola, Tanjung Verde, Lesotho, Sudan Selatan, dan Zimbabwe justru menunjukkan sedikit kemajuan akibat ketidakstabilan politik, kinerja ekonomi yang buruk, dan tingginya biaya peluang sekolah—misalnya di Lesotho, hanya satu dari lima anak laki-laki yang menyelesaikan kelas 12 karena harus menggembala ternak.
Dua faktor utama mendorong peningkatan angka putus sekolah dalam lima tahun terakhir. Pertama, melemahnya efek subsidi pendidikan universal awal 2000-an. Dari 42 negara Afrika yang memiliki kebijakan sekolah gratis, hanya tiga yang benar-benar mampu menerapkannya pada 2025. Bantuan pendidikan dari organisasi multilateral juga menurun 7% pada 2024. Kedua, dampak pandemi COVID-19: sekitar 10 juta anak tidak pernah kembali ke sekolah setelah lockdown, sebagian karena pernikahan dini pada anak perempuan dan pekerja anak pada laki-laki.
Kawasan Sahel, Republik Afrika Tengah, Chad, Mauritania, dan Nigeria utara mencatat angka putus sekolah tertinggi, dipicu oleh kekerasan politik, perubahan iklim ekstrem, dan rendahnya partisipasi historis. Padahal, setiap tahun tambahan sekolah dapat meningkatkan pendapatan seumur hidup seseorang rata-rata 10%. Anak dari ibu yang menyelesaikan pendidikan menengah memiliki risiko kematian sebelum usia 3 tahun 45% lebih rendah dibandingkan anak dari ibu tanpa pendidikan.
Kesenjangan gender mulai mengkhawatirkan: meski proporsi anak laki-laki putus sekolah (51%) sedikit lebih tinggi, angka putus sekolah perempuan meningkat dua poin persen dalam satu dekade. Jika tren ini berlanjut, jumlah perempuan putus sekolah akan melampaui laki-laki, memperparah kerentanan anak perempuan dan mengikis capaian kesetaraan gender selama 30 tahun terakhir.
Pelajaran dari negara-negara yang berhasil menekan angka putus sekolah, seperti Aljazair, Ghana, Kenya, dan Rwanda, menunjukkan pentingnya kerangka kebijakan nasional yang kuat, koordinasi pusat, dukungan mitra, serta program afirmasi bagi kelompok rentan. Penghapusan biaya sekolah, bantuan sosial tepat sasaran, dan pembangunan infrastruktur untuk memperpendek jarak tempuh juga terbukti efektif. Ke depan, diperlukan komitmen berkelanjutan dan pendanaan yang memadai agar krisis pendidikan di Afrika tidak semakin dalam.



