Puncak Haji 2026: Jemaah Puji Fasilitas Mina, Keluhkan Penataan Tenda
Baca dalam 60 detik
- Jemaah haji Indonesia mengapresiasi kenyamanan tenda Mina, termasuk kasur dan AC, serta kelimpahan konsumsi selama puncak ibadah.
- Sebagian jemaah mengeluhkan penataan tenda yang kerap berubah, menyebabkan rombongan terpisah dan kapasitas tempat tidur melebihi ideal.
- Evaluasi pelayanan ini menjadi masukan bagi penyelenggaraan haji tahun depan, terutama dalam aspek logistik dan pengaturan kloter.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7325411/original/075344300_1780110552-Jemaah_haji_Klaten_kloter_SOC_60_ditemui_di_Jamarat__Mina__Makkah__29_Mei_2026.__Liputan6.com_Asnida_Riani_Media_Center_Haji_2026_.jpg)
Jemaah haji Indonesia mulai merasakan dampak langsung dari pelayanan logistik selama puncak ibadah di Mina, dengan testimoni yang beragam antara kepuasan dan kritik terhadap penataan tenda. Di tengah padatnya ritual lempar jumrah pada Hari Tasyrik, sejumlah jemaah mengaku nyaman dengan fasilitas yang disediakan, namun sebagian lain menyoroti masalah pengaturan tempat tinggal yang dinilai kurang rapi.
Pariem Pirmawati, jemaah asal Palembang dari kloter PLM 4, menyampaikan apresiasinya terhadap kualitas tenda Mina. Menurutnya, kasur yang empuk dan pendingin ruangan yang berfungsi baik menjadi penyelamat setelah berjam-jam menjalani wukuf dan perjalanan dari Muzdalifah. "Kasurnya cukup nyaman, AC-nya juga Alhamdulillah dingin," ujarnya kepada tim Media Center Haji di Mina, Kamis (28/5/2026). Ia juga memuji ketersediaan konsumsi yang melimpah serta pelayanan petugas haji Indonesia yang dinilainya "hebat banget".
Pengalaman berbeda disampaikan Sri Amini, jemaah asal Klaten dari kloter SOC 60. Ia mengeluhkan penataan tenda di Arafah dan Mina yang kerap berubah, membuat rombongannya terpisah-pisah. "Kloternya beberapa kali dipindahkan dari tenda yang sudah ditempati," katanya. Akibatnya, sebagian jemaah harus berbagi tempat tidur dengan kapasitas melebihi semestinya. Kondisi baru agak longgar setelah sebagian jemaah memilih Nafar Awal dan kembali ke Makkah lebih awal.
Meski ada catatan, Amini tetap bersyukur dapat menjalani ibadah dengan lancar. Ia menilai makanan di hotel dan area sekitar sudah baik, hanya berharap menu berkuah lebih diperbanyak. "Sampai sekarang saya belum ketemu sayur berkuah," keluhnya. Sementara itu, Pirma memanfaatkan momen di Mina untuk mendoakan keluarga di Indonesia, berharap semua selamat hingga kembali ke tanah air.
Perbedaan pengalaman ini mencerminkan tantangan logistik yang dihadapi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dalam mengelola ratusan ribu jemaah di area Mina yang terbatas. Penataan tenda yang dinamis, meski bertujuan mengakomodasi pergerakan jemaah, justru menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian. Ke depan, evaluasi terhadap sistem pengelompokan kloter dan komunikasi perubahan lokasi menjadi krusial agar jemaah tidak merasa kebingungan.
Bagi calon jemaah haji Indonesia tahun depan, catatan dari Mina ini menjadi pengingat bahwa kenyamanan fisik sama pentingnya dengan kekhusyukan ibadah. Pertanyaannya, mampukah PPIH menyempurnakan sistem penataan tenda agar seluruh jemaah mendapat tempat yang stabil dan layak selama puncak haji?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7507672/original/005412200_1780279902-IMG-20260531-WA0002.jpg)


