Gangguan Sistem Imigrasi Malaysia: Puluhan Ribu Pemudik Terjebak, Sistem Berusia 30 Tahun Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Kegagalan sistem MyIMMs yang sudah berusia tiga dekade melumpuhkan 114 pos pemeriksaan imigrasi Malaysia selama lima jam, menyebabkan penundaan massal bagi puluhan ribu pelintas batas.
- Insiden kedua dalam sebulan ini memicu kekhawatiran akan keandalan infrastruktur digital imigrasi, terutama di jalur sibuk Johor-Singapura yang dilalui ribuan pekerja harian.
- Pemerintah Malaysia berjanji mengganti sistem dengan NIISe pada 2028, namun selama masa transisi, gangguan serupa masih berpotensi terjadi.

Gangguan sistem imigrasi nasional Malaysia pada Kamis (28/5) pagi membuat puluhan ribu pelintas batas, mayoritas pekerja yang menyeberang ke Singapura, harus mengantre berjam-jam setelah seluruh sistem komputerisasi imigrasi lumpuh total selama hampir lima jam. Insiden ini menjadi yang kedua dalam sebulan terakhir, memicu pertanyaan serius tentang kesiapan infrastruktur digital negara tersebut di tengah meningkatnya volume perlintasan.
Menurut laporan media lokal The Star, sistem imigrasi Malaysia (MyIMMs) yang sudah beroperasi sejak 30 tahun lalu mengalami kegagalan teknis di pusat data mulai pukul 04.30 hingga 09.30 waktu setempat. Akibatnya, petugas imigrasi di 114 pos pemeriksaan—termasuk dua pintu masuk utama Johor yang terhubung ke Singapura melalui Causeway dan Tuas Second Link—terpaksa memproses dokumen secara manual. Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Malaysia menggambarkan situasi tersebut sebagai "waktu puncak" karena puluhan ribu warga Malaysia tengah berangkat kerja ke Singapura.
"Kami harus mengerahkan semua personel untuk menjaga konter manual di aula bus, jalur sepeda motor, dan kendaraan. Bukan hanya autogate, sistem pengenalan wajah juga ikut mati," ujar pejabat tersebut kepada The Star. Kepadatan lalu lintas di kedua pos pemeriksaan langsung melonjak, dan foto serta video antrean panjang serta kemacetan parah beredar luas di media sosial.
Direktur Jenderal Imigrasi Malaysia, Zakaria Shaaban, mengonfirmasi bahwa sistem kembali pulih pada pukul 08.45 setelah perbaikan dilakukan. Ia menegaskan bahwa gangguan bukan akibat peretasan, melainkan karena usia sistem yang sudah uzur. "Sistem MyIMMs sudah berusia 30 tahun. Masalah pasti akan terjadi," katanya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa gangguan serupa masih mungkin terulang hingga sistem pengganti, National Integrated Immigration System (NIISe), beroperasi penuh pada 2028.
Bagi para komuter harian seperti M Satish, seorang petugas kesehatan dan keselamatan kerja berusia 35 tahun yang biasa melintas dengan sepeda motor, gangguan ini sangat mengganggu. Ia tiba di pos KSAB sekitar pukul 07.30 dan butuh 40 menit untuk melewati imigrasi—padahal biasanya kurang dari 10 menit. "Kalau saya tidak berangkat lebih awal, pasti terlambat kerja. Gangguan ini juga memperparah kemacetan," keluhnya. Sementara itu, Soh Qiao Shi, akuntan 28 tahun yang melintas di pos BSI, mengaku frustrasi karena pemindai kode QR dan gerbang paspor otomatis mati total. "Sangat menyebalkan, apalagi cuaca panas dan penuh sesak. Ini sudah terjadi beberapa kali tahun ini," ujarnya.
Menteri Dalam Negeri Saifuddin Nasution Ismail sebelumnya telah meminta vendor NIISe menyiapkan rencana mitigasi menjelang operasional Jalur Transit Cepat (RTS) Johor Bahru-Singapura tahun depan. Pemerintah Malaysia berkomitmen meminimalkan gangguan teknis pada sistem baru, namun hingga NIISe benar-benar aktif, para pengguna jalur darat Johor-Singapura harus bersiap menghadapi potensi antrean panjang kapan saja. Pertanyaan besarnya: akankah sistem berusia tiga dekade ini mampu bertahan tanpa insiden besar di tengah volume perlintasan yang terus meningkat?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7507672/original/005412200_1780279902-IMG-20260531-WA0002.jpg)


