Sistem Pemantau Laut Global Terancam di Saat Kritis Perubahan Iklim
Baca dalam 60 detik
- Global Ocean Observing System (GOOS) yang memonitor perubahan iklim laut menghadapi risiko besar akibat ancaman pemotongan dana dari Amerika Serikat dan negara lain.
- Jika data dari AS ditarik, kesalahan estimasi pemanasan laut melonjak 163%, lebih parah dari kehilangan 80% data global secara acak.
- Biaya operasional GOOS US$1,1 miliar per tahun jauh lebih kecil dibanding kerugian akibat badai dan gelombang panas laut yang mencapai ratusan miliar dolar.

Sistem pengamatan laut global yang menjadi tulang punggung deteksi perubahan iklim kini berada dalam tekanan pendanaan di saat kebutuhannya justru semakin mendesak. Jaringan instrumen yang dikenal sebagai Global Ocean Observing System (GOOS) ini mengumpulkan data dari ribuan pelampung, glider bawah air, dan kapal riset untuk memantau suhu, salinitas, dan arus laut secara real-time. Namun, analisis terbaru mengungkapkan bahwa sistem ini rentan terhadap pengurangan kontribusi dari negara-negara utama, terutama Amerika Serikat.
GOOS terdiri dari sekitar 4.000 pelampung Argo yang menyelam hingga kedalaman 2.000 meter setiap sepuluh hari, serta glider yang menjangkau wilayah pesisir dan tepi benua. Data dari instrumen ini menjadi dasar bagi model prakiraan cuaca harian, peringatan badai, prediksi musim kemarau, dan proyeksi kenaikan permukaan laut. Tanpa data bawah permukaan yang akurat, kemampuan untuk memprediksi fenomena seperti El Niรฑo dan perubahan arus besar seperti Atlantic Meridional Overturning Circulation akan menurun drastis.
Ancaman nyata datang dari rencana pemotongan anggaran untuk NOAA dan National Science Foundation di AS. Sementara itu, program Eropa juga mengalami tekanan pendanaan, dan China berupaya membangun sistem observasi nasional yang lebih tangguh namun terkendala sumber daya. Total biaya operasional GOOS mencapai US$1,1 miliar per tahun โ angka yang kecil jika dibandingkan dengan kerugian akibat satu musim badai besar yang bisa mencapai ratusan miliar dolar, atau kerugian perikanan akibat gelombang panas laut.
Konferensi ilmiah internasional OceanObs'29 yang akan digelar di China dalam tiga tahun mendatang diharapkan menjadi momentum untuk merundingkan sistem observasi yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Diperlukan kerja sama global yang lebih erat agar jaringan pemantauan dapat mencakup seluruh lautan secara optimal. Pelampung Argo misalnya, hanya bertahan 4-5 tahun sehingga harus terus diperbarui. Selandia Baru telah berperan penting dengan mengerahkan kapal riset Kaharoa untuk menempatkan lebih dari 1.100 pelampung sejak 2004, membuktikan bahwa negara kecil pun dapat berkontribusi signifikan.
Jika komponen GOOS dihilangkan karena keputusan politik, kemampuan sistem untuk memberikan informasi andal akan menurun drastis. Membangun ulang sistem yang sama akan jauh lebih sulit dan mahal dibandingkan biaya pemeliharaan saat ini. Yang lebih mengkhawatirkan, dunia bisa kehilangan kemampuan memantau transformasi iklim paling dahsyat dalam sejarah manusia. Investasi dalam observasi laut bukanlah pengeluaran, melainkan salah satu bentuk investasi publik dengan imbal hasil tertinggi untuk mengurangi risiko bencana iklim di masa depan.


