29.400 Dapur MBG Lolos Verifikasi Nasional: Target 30.000 Hampir Tercapai
Baca dalam 60 detik
- Badan Gizi Nasional mencatat 29.400 dapur Makan Bergizi Gratis telah terverifikasi, dengan 27.900 di antaranya sudah beroperasi, mendekati target nasional 30.000 lokasi.
- Program MBG kini menjangkau 82,9 juta penerima manfaat, termasuk ibu hamil, menyusui, balita, peserta didik, dan tenaga pendidik, dengan perluasan sasaran dari sebelumnya hanya peserta didik.
- Efisiensi anggaran pemerintah tidak mengubah kualitas MBG; harga porsi tetap Rp15.000 untuk porsi besar dan Rp13.000 untuk porsi kecil, mencakup biaya operasional, insentif, dan bahan baku.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan bahwa sebanyak 29.400 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) telah lolos verifikasi secara nasional, atau setara 98 persen dari target 30.000 lokasi yang direncanakan. Dari jumlah tersebut, 27.900 dapur sudah beroperasi dan melayani kebutuhan gizi masyarakat di berbagai daerah. Capaian ini menjadi sinyal positif bagi program prioritas pemerintah yang menyasar 82,9 juta penerima manfaat, mulai dari ibu hamil hingga tenaga pendidik.
Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, mengungkapkan bahwa proses verifikasi masih terus berjalan, terutama untuk daerah terpencil yang datanya belum sepenuhnya tervalidasi. "Sisanya, kita menunggu hasil validasi data riil, terutama untuk daerah terpencil," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (29/5/2026). Dengan demikian, pemerintah optimistis target 30.000 dapur dapat terpenuhi dalam waktu dekat, meskipun tantangan geografis masih menjadi kendala utama.
Program MBG tidak hanya menyasar peserta didik, tetapi juga kelompok rentan lainnya. Data terbaru menunjukkan adanya perluasan penerima manfaat, mencakup ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, peserta didik, dan tenaga pendidik. "Jadi, yang kita utamakan itu adalah ibu hamil, menyusui, anak balita, peserta didik, dan tenaga pendidik," tegas Sony. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah menekan angka stunting dan malnutrisi, terutama di wilayah dengan akses pangan terbatas.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah, BGN memastikan kualitas MBG tidak akan berkurang. Sony menjelaskan bahwa efisiensi dilakukan dengan memotong sejumlah anggaran kegiatan yang tidak langsung berdampak pada layanan. "BGN menyambut kebijakan pemerintah ini tanpa mengurangi kualitas (MBG). Tetap Rp15 ribu untuk porsi besar dan Rp13 ribu untuk porsi kecil," imbuhnya. Anggaran tersebut sudah mencakup biaya operasional dapur, insentif tenaga kerja, dan bahan baku makanan.
Porsi besar Rp15.000 diberikan kepada peserta didik kelas 4 SD ke atas, ibu hamil, dan tenaga pendidik. Sementara itu, porsi kecil Rp13.000 dialokasikan untuk balita hingga peserta didik kelas 3 SD. Pembagian ini didasarkan pada kebutuhan gizi yang berbeda antar kelompok usia. Dengan skema ini, pemerintah berharap program MBG dapat berjalan berkelanjutan tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan.
Bagi Indonesia, keberhasilan program MBG memiliki dampak strategis, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan jangkauan 82,9 juta penerima, program ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia dalam hal cakupan gizi gratis. Namun, tantangan distribusi di daerah terpencil dan konsistensi kualitas makanan masih perlu diantisipasi. Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pemerintah mampu mempertahankan standar ini ketika jumlah dapur bertambah dan anggaran terus dimampatkan?



