Beijing Jadi Pusat Gravitasi Baru: Kunjungan Beruntun Trump dan Putin Pertegas Pergeseran Kekuatan Global
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing dalam waktu berdekatan, menandai perubahan peta diplomasi global.
- Sikap tegas Xi Jinping dalam pertemuan dengan Trump, termasuk penggunaan istilah 'Thucydides Trap', menunjukkan China tidak lagi mudah dipengaruhi Washington.
- Kemitraan strategis China-Rusia semakin dalam, dengan Beijing memposisikan diri sebagai simpul utama politik kekuatan besar, menggantikan peran sentral AS.

Beijing menjadi tuan rumah bagi dua pemimpin negara adidaya dalam sepekan terakhir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin bergantian mengunjungi ibu kota China, menghadiri serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping. Momen ini tidak hanya menyita perhatian dunia, tetapi juga mengirimkan sinyal kuat tentang pergeseran poros kekuatan global.
Kunjungan Trump merupakan lawatan kenegaraan pertamanya ke Beijing sejak 2017, dilakukan di tengah hubungan AS-China yang sedang tegang. Sementara itu, Putin melaksanakan kunjungan resminya yang ke-25 ke China, dengan agenda memperkuat aliansi strategis di tengah ketidakpastian global. Meskipun Kremlin membantah adanya kaitan langsung antara kedua kunjungan tersebut, para analis melihat pola yang mengindikasikan perubahan struktural dalam politik dunia.
Dalam pertemuan dengan Trump, Xi Jinping menunjukkan sikap yang lebih percaya diri dan dominan. Bahasa tubuh yang tegas, jabat tangan yang dingin, serta tidak adanya kesepakatan formal yang dihasilkan dari pertemuan tersebut menegaskan bahwa Washington tidak lagi memiliki pengaruh sebesar dulu terhadap Beijing. Xi bahkan secara gamblang menyebut 'Thucydides Trap'โkonsep bahwa kekuatan yang sedang naik daun akan mengancam kekuatan mapanโsebagai peringatan bagi AS agar tidak terus menerapkan strategi pengekangan.
Sebaliknya, pertemuan dengan Putin berlangsung lebih hangat. Xi menyebut Putin sebagai 'teman lama yang baik' dan kedua pemimpin menyepakati sejumlah kerja sama, meskipun proyek pipa gas Power of Siberia-2 belum mencapai kesepakatan final. Dalam percakapan pribadi di kompleks kepemimpinan Zhongnanhai, Xi secara halus mengingatkan Trump bahwa Putin pernah menjadi tamu di tempat yang samaโsebuah isyarat bahwa China memiliki opsi diplomasi yang tidak terbatas pada AS.
Pergeseran ini menempatkan China sebagai pusat gravitasi baru dalam politik kekuatan besar. Selama beberapa dekade, AS menduduki puncak 'segitiga besar' yang menyeimbangkan hubungan dengan China dan Uni Soviet, kemudian Rusia. Kini, Beijing menjadi titik yang harus dikunjungi oleh kedua rival tersebut, baik untuk stabilisasi, jaminan, maupun sinyal strategis. China tidak berusaha mempertemukan Washington dan Moskow, melainkan memposisikan diri sebagai simpul utama tempat diplomasi kekuatan besar harus melewatinya.
Ke depannya, tatanan global tampaknya akan semakin berpusat di Beijing. Meskipun China belum menjadi yang terkuat secara militer atau ekonomi, kepercayaan diri untuk berinteraksi dengan AS dan Rusia dalam kerangka yang ditentukan sendiri telah mengubah peta geopolitik. Dunia kini menyaksikan bahwa politik kekuatan besar tidak lagi berporos pada Washington, melainkan mulai bergerak melalui Beijing.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7250535/original/086247000_1780036645-am1.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7259728/original/067836900_1780045811-3.jpg)