Gencatan Senjata AS-Iran Perpanjang Ketidakpastian, Rupiah Terperosok ke Rp 17.870
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,88% ke 6.184 pada perdagangan Jumat pagi, namun rupiah justru terdepresiasi 0,53% ke level Rp 17.870 per dolar AS.
- Pelemahan rupiah terjadi di tengah perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang belum memberikan kepastian bagi pasar keuangan global.
- Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek, mengingat sentimen risk-off masih dominan dan intervensi Bank Indonesia belum mampu menghentikan laju dolar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan tren positif pada perdagangan Jumat pagi, 29 Mei 2026, dengan menguat 0,88% ke level 6.184. Namun, di balik kinerja bursa yang cerah, nilai tukar rupiah justru menunjukkan kelemahan signifikan dengan terdepresiasi 0,53% ke posisi Rp 17.870 per dolar Amerika Serikat.
Pergerakan berlawanan antara IHSG dan rupiah ini mencerminkan fragmentasi sentimen di pasar keuangan Indonesia. Di satu sisi, investor asing masih tertarik masuk ke pasar saham karena valuasi yang relatif murah dan prospek ekonomi domestik yang stabil. Namun di sisi lain, tekanan terhadap rupiah terus berlanjut akibat ketidakpastian global yang belum mereda, terutama setelah Amerika Serikat dan Iran kembali memperpanjang masa gencatan senjata mereka.
Perpanjangan gencatan senjata AS-Iran yang semula diharapkan menjadi katalis positif bagi pasar justru tidak memberikan kejelasan jangka panjang. Para pelaku pasar menilai bahwa kesepakatan sementara ini hanya menunda eskalasi konflik, bukan menyelesaikan akar permasalahan geopolitik di Timur Tengah. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe-haven tetap tinggi, menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah yang terus berlanjut menjadi kekhawatiran tersendiri. Nilai tukar yang sudah menembus Rp 17.800 per dolar AS membuat beban impor semakin berat, terutama untuk bahan baku industri dan energi. Sektor manufaktur yang masih bergantung pada komponen impor diprediksi akan mengalami tekanan margin. Di sisi lain, Bank Indonesia diperkirakan akan kembali melakukan intervensi di pasar valas untuk menstabilkan rupiah, meskipun efektivitasnya masih terbatas di tengah kuatnya permintaan dolar global.
Analis pasar menilai bahwa pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran dan sikap The Fed terkait suku bunga. Jika ketidakpastian geopolitik berkepanjangan, bukan tidak mungkin rupiah akan menguji level Rp 18.000 dalam waktu dekat. Sebaliknya, apabila tercapai kesepakatan damai yang lebih konkret, tekanan terhadap rupiah bisa mereda dan membuka ruang bagi penguatan.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: sejauh mana Bank Indonesia bersedia mengerahkan cadangan devisa untuk menahan laju pelemahan rupiah? Dan akankah investor asing tetap bertahan di pasar saham jika tekanan nilai tukar semakin menggerus imbal hasil riil?



