Saham Bank Besar Ambruk, IHSG Tutup di Zona Merah Usai Sesi I Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Lima saham perbankan berkapitalisasi besar mengalami penurunan signifikan pada Jumat, dengan BBTN memimpin koreksi hingga 5,22%.
- Nilai transaksi harian mencapai Rp50,15 triliun, salah satu tertinggi dalam sejarah bursa, menandakan aksi jual besar-besaran di sektor perbankan.
- Tekanan jual diperkirakan berlanjut seiring sentimen negatif pasca-libur dan ketidakpastian ekonomi global, menguji level support IHSG di 6.100.

Lima saham bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, membalikkan penguatan tajam yang terjadi pada sesi pertama. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat melesat 1,43% ke level 6.217,88 akhirnya terpangkas habis dan ditutup turun tipis 0,05% ke posisi 6.127,38, memperpanjang tren koreksi sejak sebelum libur Idul Adha.
Tekanan jual paling dalam dialami oleh PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang ambles 5,22% ke level 1.270. Disusul oleh saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang terkoreksi 4,60% ke 5.700 dengan nilai transaksi mencapai Rp5,82 triliun. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 3,91% ke 2.950, sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 3,65% ke 3.700. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga ikut tertekan dengan penurunan 1,21% ke 4.080.
Fenomena ini menarik karena terjadi setelah sesi pertama yang optimistis. IHSG sempat melonjak 87,69 poin, namun aksi ambil untung dan tekanan jual asing membalikkan keadaan. Menurut analis pasar, penurunan saham perbankan jumbo dipicu oleh kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga acuan dan perlambatan pertumbuhan kredit. "Investor asing cenderung melepas kepemilikan di sektor perbankan karena risiko margin bunga bersih yang tertekan," ujar seorang analis dari Mirae Asset Sekuritas.
Di tengah merahnya sektor perbankan, beberapa saham bank syariah dan swasta justru mencatat penguatan. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) memimpin dengan kenaikan 2,59% ke 1.980, disusul PT Bank Permata Tbk (BNLI) naik 0,97%, dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menguat 0,31%. Pergerakan ini menunjukkan adanya rotasi dana investor ke saham yang dianggap lebih defensif atau memiliki prospek laba lebih stabil.
Bagi investor Indonesia, tekanan jual di sektor perbankan menjadi sinyal waspada. Sektor ini menyumbang bobot besar di IHSG, sehingga koreksi lanjutan berpotensi menyeret indeks lebih dalam. Level support berikutnya berada di 6.100, dan jika ditembus, IHSG bisa menguji 6.000. Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi dan kebijakan Bank Indonesia pekan depan sebagai katalis penentu arah selanjutnya.



