Belitan Jaring pada Paus dan Lumba-lumba: Luka Tersembunyi yang Sering Terabaikan
Baca dalam 60 detik
- Setiap tahun, sekitar 300.000 cetacea mati akibat terjerat alat tangkap atau sampah laut, namun angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi karena banyak kasus tidak terdeteksi.
- Seekor lumba-lumba hidung botol yang berhasil dilepaskan dari jaring justru ditemukan mati beberapa waktu kemudian akibat infeksi kronis dan kekurangan gizi parah, menunjukkan bahwa pelepasan bukan jaminan keselamatan.
- Para ilmuwan mendesak agar keberhasilan penyelamatan tidak hanya diukur dari hewan yang berenang bebas, tetapi juga pemulihan jangka panjang dan tingkat penderitaan yang dialami.

Seekor paus bungkuk yang terjerat tali jaring lobster di perairan Kaikōura, Selandia Baru, pekan lalu berhasil membebaskan diri setelah meronta selama sepuluh menit. Namun, tidak semua kasus berakhir secepat itu. Di Australia dan Selandia Baru, operasi penyelamatan seringkali melibatkan tim khusus, beberapa kapal, dan peralatan canggih untuk melepaskan hewan dari belitan kawat, tali, dan pelampung.
Meskipun intervensi semacam itu kerap diberitakan sebagai kisah sukses konservasi, realitas di baliknya jauh lebih kelam. Menurut perkiraan para ilmuwan, sekitar 300.000 paus, lumba-lumba, dan pesut mati setiap tahun akibat terjerat jaring atau tertangkap secara tidak sengaja (bycatch). Angka ini hanyalah puncak gunung es karena banyak kejadian terjadi di laut lepas dan tidak pernah teramati.
Belitan tidak hanya menjadi masalah konservasi, tetapi juga kesejahteraan hewan yang serius. Beberapa hewan tenggelam segera setelah terjerat, namun yang lain bertahan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan dengan tali yang semakin dalam memotong jaringan, mengganggu pergerakan, menurunkan efisiensi makan, dan memicu infeksi. Dalam banyak kasus, kematian disebabkan oleh komplikasi sekunder, bukan belitan itu sendiri.
Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional (IWC) telah memimpin inisiatif respons global untuk mengatasi masalah ini, mengembangkan protokol praktik terbaik dan melatih tim di berbagai negara, termasuk Selandia Baru dan Australia. Namun, keterbatasan cuaca, kondisi laut, dan jarak seringkali menghambat intervensi cepat. Banyak hewan yang terjerat tidak pernah ditemukan kembali, atau baru ditemukan setelah mengalami kerusakan permanen.
"Keberhasilan tidak boleh diukur semata-mata dari apakah hewan itu berenang menjauh setelah dilepaskan. Harus dipertimbangkan juga pemulihan jangka panjang, durasi penderitaan, tingkat keparahan cedera, dan kemungkinan bertahan hidup yang realistis," tegas para peneliti.
Gambar-gambar lumba-lumba yang berenang bebas setelah diselamatkan memang membangkitkan harapan dan empati. Namun, di balik citra heroik tersebut, terdapat realitas biologis yang pahit: bagi sebagian hewan, kerusakan telah terjadi jauh sebelum tali dipotong. Lumba-lumba dalam studi ini menjadi pengingat bahwa kematian bukanlah akibat dari peristiwa terdampar yang terisolasi, melainkan tahap akhir dari penurunan fisiologis kronis yang berkepanjangan.
Ke depannya, para ahli mendorong agar upaya penyelamatan tidak hanya berfokus pada pelepasan fisik, tetapi juga pemantauan pasca-intervensi dan perawatan medis yang memadai. Hanya dengan pendekatan holistik seperti itu, kesejahteraan cetacea yang terjerat dapat benar-benar terjamin.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7250535/original/086247000_1780036645-am1.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7259728/original/067836900_1780045811-3.jpg)