El Niño 2026 Mengancam: Indonesia Bersiap Hadapi Kemarau Ekstrem dan Risiko Kekeringan
Baca dalam 60 detik
- BMKG memprediksi 7% zona musim Indonesia telah memasuki kemarau per akhir Maret 2026, dengan puncak kekeringan diperkirakan pada Agustus.
- Fenomena El Niño berpotensi kembali dengan intensitas lemah hingga moderat (peluang 50-80%), memperparah kondisi kering dan memperpanjang musim kemarau.
- Masyarakat diimbau menghemat air, memanfaatkan penampungan hujan, serta waspada terhadap risiko ISPA dan heatstroke akibat debu dan suhu ekstrem.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih cepat, lebih kering, dan lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya. Hingga akhir Maret 2026, sekitar 7% zona musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki periode kering, dan angka ini diperkirakan melonjak signifikan pada April hingga Juni mendatang.
Wilayah yang sudah merasakan dampak awal meliputi sebagian Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, NTB, NTT, Maluku, dan sebagian kecil Papua Barat. Puncak kemarau diproyeksikan terjadi pada Agustus 2026, dengan Jawa, Sumatera bagian selatan, Bali, dan Nusa Tenggara menjadi daerah yang paling terpengaruh.
Faktor utama di balik kondisi ini adalah potensi kembalinya fenomena El Niño, yaitu pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang menghambat pembentukan awan hujan di Indonesia. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam sesi Ask the Expert mengungkapkan bahwa peluang ENSO (El Niño-Southern Oscillation) beralih ke fase El Niño pada semester kedua tahun ini cukup besar, dengan intensitas diprediksi lemah hingga moderat (peluang 50-80%). Meski demikian, kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini bisa berkembang menjadi kuat, yang berpotensi memicu kekeringan ekstrem.
Ardhasena menegaskan bahwa istilah populer seperti "Super El Niño" atau "Godzilla El Niño" bukanlah terminologi resmi. Kategori resmi meliputi lemah, moderat, dan kuat. Jika El Niño menguat, durasi dan tingkat kekeringan akan meningkat, memperbesar risiko gagal panen, krisis air bersih, dan kebakaran hutan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat air dan memaksimalkan penampungan air hujan melalui sumur resapan atau tandon. Selain itu, debu yang melimpah selama musim kemarau dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sementara suhu ekstrem meningkatkan risiko dehidrasi dan heatstroke. Penggunaan masker, konsumsi air putih yang cukup, serta perlindungan dari sinar matahari langsung menjadi langkah antisipasi yang direkomendasikan.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan iklim ini. Pemantauan terus-menerus terhadap perkembangan ENSO dan kesiapsiagaan logistik di daerah rawan kekeringan perlu diperkuat agar dampak buruk dapat diminimalkan.


