PSIM Yogyakarta Akhiri Musim Perdana di BRI Super League 2025/2026: Posisi 11 dan Julukan Raja Imbang
Baca dalam 60 detik
- PSIM Yogyakarta menuntaskan musim debut di BRI Super League 2025/2026 di peringkat ke-11 dengan koleksi 45 poin dari 34 laga.
- Laskar Mataram mencatatkan rekor hasil imbang terbanyak (12 kali) sepanjang musim, menjadi tim paling sering berbagi angka di kompetisi.
- Minimnya aktivitas bursa transfer paruh musim menjadi faktor utama penurunan performa tim pada putaran kedua.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469075/original/063243100_1768052175-Aksi_Laskar_Mataram_saat_paruh_pertama._PSIMJogja_StrongerThanEver_MataramDay.jpg)
PSIM Yogyakarta resmi mengakhiri petualangan perdananya di BRI Super League 2025/2026 dengan finis di urutan ke-11 klasemen akhir. Tim promosi yang berjuluk Laskar Mataram itu mengumpulkan 45 poin dari 34 pertandingan, dengan catatan 11 kemenangan, 12 hasil imbang, dan 11 kekalahan.
Musim ini menjadi ujian berat bagi PSIM yang baru kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Manajemen klub sejak awal telah mempersiapkan diri dengan menunjuk pelatih asal Belanda, Jean-Paul van Gastel, serta mendatangkan sederet pemain asing berpengalaman seperti Ze Valente, Ezequiel Vidal, Nermin Haljeta, Deri Corfe, dan Rakhmatsho Rakhmatzoda. Langkah ini diambil untuk memperkuat skuad menghadapi persaingan ketat di liga.
Pada putaran pertama, PSIM tampil gemilang dengan tak terkalahkan dalam empat laga awal, termasuk kemenangan atas tim-tim papan atas seperti Bali United, Dewa United, dan Persik Kediri. Konsistensi ini membawa mereka bertengger di posisi keenam saat paruh musim. Namun, memasuki putaran kedua, performa tim menurun drastis. PSIM sempat melewati lima pertandingan beruntun tanpa kemenangan, dan hanya mampu meraih tiga hasil imbang dalam delapan laga berikutnya.
Salah satu penyebab utama penurunan tersebut adalah minimnya aktivitas di bursa transfer paruh musim. PSIM hanya merekrut satu pemain asing, bek Jop van der Avert, sementara sebagian besar rival melakukan perombakan besar-besaran. Hal ini membuat Laskar Mataram kesulitan bersaing di papan atas dan akhirnya harus puas di zona tengah klasemen.
Dari segi individu, gelandang asal Portugal Ze Valente menjadi motor permainan sekaligus top scorer tim dengan 10 gol dan 4 assist dari 32 penampilan. Ezequiel Vidal juga tampil impresif dengan sumbangan 8 gol dan 6 assist. Pemain lokal seperti Cahya Supriadi, Raka Cahyana, dan Savio Sheva turut memberikan kontribusi konsisten sepanjang musim.
Meski gagal bersaing di papan atas, PSIM menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang kompetitif. Catatan 12 hasil imbang membuktikan bahwa Laskar Mataram mampu menyulitkan lawan-lawannya, meski sering gagal mengamankan poin penuh. Ke depan, manajemen perlu mengevaluasi strategi transfer dan konsistensi performa agar bisa lebih bersaing di musim depan.



