Jadi Ayah, Eli Roth Tulis Ulang Naskah Horor 'Ice Cream Man' dari Sudut Pandang Orang Tua
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Eli Roth memutuskan merevisi naskah 'Ice Cream Man' yang ia tulis dua dekade lalu setelah kelahiran putrinya, menggeser fokus dari kengerian anak-anak ke kecemasan orang tua.
- Film slasher ini mengeksploitasi ketakutan primal orang tua terhadap ancaman yang menyamar sebagai figur tepercaya, seperti tukang es krim, dan ketidakmampuan melindungi anak sepenuhnya.
- Roth sengaja menampilkan 'pemutarbalikan masa kanak-kanak' dengan senjata mainan dan permainan sekolah yang berubah mematikan, menawarkan tontonan horor yang lebih kreatif tanpa senjata api.

Dua dekade setelah menulis naskah horor tentang tukang es krim yang mengubah anak-anak menjadi pembunuh, Eli Roth kembali menyusun ulang ceritanya. Namun kali ini, sang sutradara tidak lagi melihat dari kacamata anak-anak, melainkan dari perspektif seorang ayah yang baru memiliki putri berusia 17 bulan.
Dalam wawancara dengan Creative Screenwriting, Roth mengaku bahwa kelahiran Donatella, buah hatinya dengan Vittoria Buraschi, mengubah total pendekatannya terhadap film yang awalnya ia tulis 20 tahun lalu. “Saya melihat naskah lama dan menulis ulang dari sudut pandang orang tua,” ujarnya. “Semua tentang melindungi anak Anda.” Bagi Roth, perasaan ingin melindungi anak dari segala bahaya adalah naluri yang sangat kuat, namun ia sadar bahwa pengamanan sempurna mustahil dilakukan. “Anda hanya bisa mempersiapkan mereka menghadapi dunia,” tambahnya.
Ketakutan itu menjadi inti Ice Cream Man, film yang berlatar kota pinggiran yang porak-poranda setelah tukang es krim menyajikan es krim yang membuat anak-anak menjadi gila. Roth menekankan bahwa ketakutan paling primal adalah ketika sesuatu yang dipercaya—seperti petugas berseragam—berbalik menjadi ancaman. “Kami memercayai orang berseragam. Jadi, ketika seseorang melanggar kepercayaan itu, itu benar-benar menakutkan,” katanya. Di sinilah film menyentuh sisi gelap parenting: betapa rentannya anak-anak terhadap pengaruh luar yang tidak terduga.
Kekhawatiran Roth tidak hanya terbatas pada ancaman fisik. Ia juga merenungkan pengaruh zaman digital. Meskipun orang tua bisa menerapkan aturan bebas layar di rumah, Roth menyadari bahwa pada akhirnya anak-anak akan terpapar dunia luar. “Suatu saat putri saya akan pergi ke sekolah, dan akan ada seseorang di sana dengan gawai. Akan ada ide yang masuk ke kepalanya,” ujarnya. Ini adalah refleksi universal yang relevan di Indonesia, di mana kekhawatiran terhadap paparan konten negatif dan pergaulan semakin mengemuka di kalangan orang tua milenial.
Namun, Ice Cream Man tak melulu soal pesan serius. Roth tetap mempertahankan formula slasher yang menjadi ciri khasnya, namun dengan twist. “Saya ingin pembunuhan yang menyenangkan, tapi bukan anak-anak yang mengambil senjata api dan menembak,” jelasnya. Film ini justru mengeksploitasi perversion of childhood—memutarbalikkan masa kanak-kanak. Dalam satu adegan, anak-anak bermain lompat tali, tetapi talinya adalah usus manusia. Di adegan lain, mereka bermain pin the tail on the donkey, namun kuncinya ditusukkan ke guru dengan pisau. Roth sengaja menggunakan benda-benda yang biasa ditemukan di sekolah sebagai senjata, untuk menimbulkan ketidaknyamanan yang lebih mendalam.
Pertanyaan besarnya, apakah Ice Cream Man akan mendapat sambutan hangat di Indonesia, mengingat rating dewasa dan tema yang sangat gelap? Dengan tren horor Indonesia yang mulai berani mengeksplorasi isu keluarga dan trauma, film ini bisa menjadi alternatif segar bagi penggemar genre yang haus akan tontonan tidak biasa. Namun, patut ditunggu apakah Roth berhasil menyulap ketakutan pribadinya sebagai orang tua menjadi teror kolektif yang membekas.



