Dominasi Premier League di Eropa: Antara Superioritas Finansial dan Mentalitas 'Flat-Track Bully'
Baca dalam 60 detik
- Klub-klub Premier League memenangi 21 dari 21 laga knockout di Europa League dan Conference League dalam dua musim terakhir, menunjukkan kesenjangan finansial yang ekstrem.
- Di Liga Champions, superioritas itu sirna: delapan dari sembilan wakil Inggris tersingkir oleh empat klub papan atas Deloitte Money League dalam dua musim terakhir.
- Kesenjangan pendapatan membuat klub papan tengah Premier League seperti Bournemouth mampu merekrut bakat muda Brasil, menggeser tradisi klub Italia dan Spanyol.

Dominasi klub-klub Premier League di dua kompetisi Eropa sekunder, Europa League dan Conference League, dalam dua musim terakhir bukan sekadar siklus kejayaan biasa. Dengan rekor 21 kemenangan dari 21 laga knockout—dua kekalahan hanya terjadi antar sesama klub Inggris—pertanyaan mendasar mengemuka: apakah ini buah dari superioritas finansial yang tak tertandingi, atau justru menandai lahirnya mentalitas 'flat-track bully' yang hanya perkasa melawan klub kecil?
Data pendapatan klub menjadi bukti paling gamblang. Aston Villa, misalnya, mengantongi pendapatan £392 juta—hampir tiga kali lipat Freiburg (£141 juta) yang mereka kalahkan di final Europa League. Crystal Palace (£197 juta) bahkan memiliki pendapatan empat kali lipat Rayo Vallecano (£52 juta) yang mereka taklukkan di final Conference League. Menurut analis keuangan sepak bola Kieran Maguire, pendapatan Palace bahkan melampaui seluruh klub Championship seperti Leeds, Sheffield United, Burnley, dan Luton. "Palace memenangi Conference League dengan pendapatan yang jauh melampaui klub mana pun di kompetisi itu," ujar Maguire.
Kesenjangan ini semakin melebar berkat kontrak siaran televisi Premier League yang mencapai £1,37 miliar per musim—setara dengan gabungan pendapatan siaran La Liga, Serie A, Bundesliga, dan Ligue 1. Akibatnya, 15 dari 20 klub Premier League menghuni 30 besar Deloitte Money League 2026. Klub sekelas Brighton (posisi 23), Bournemouth (26), dan Brentford (30) secara finansial lebih kuat dari banyak klub tradisional Eropa. Bahkan Bournemouth mampu memecahkan rekor transfer klub Brasil Vasco da Gama untuk merekrut Rayan, pemain 19 tahun yang kini masuk skuad Brasil untuk Piala Dunia—sebuah langkah yang dulu lazim dilakukan Juventus, Inter, atau AC Milan.
Namun, cerita berbalik 180 derajat di Liga Champions. Dalam dua musim terakhir, delapan dari sembilan wakil Premier League tersingkir oleh salah satu dari empat klub papan atas Deloitte Money League: Real Madrid, Barcelona, Bayern Munich, atau Paris Saint-Germain. Musim ini, Chelsea, Manchester City, Newcastle, dan Liverpool tersingkir dengan agregat skor 25-6. "Premier League mendominasi kompetisi sekunder, tapi gagal menembus elit di Liga Champions," tulis analis BBC Sport. Arsenal, satu-satunya wakil Inggris yang masih bertahan di final, harus menghadapi PSG—salah satu dari 'big four' finansial.
Fenomena ini memiliki implikasi langsung bagi sepak bola Indonesia. Dengan semakin lebarnya kesenjangan finansial, klub-klub Eropa non-elit akan kesulitan mempertahankan pemain bintangnya, yang berpotensi memperkuat tim nasional lawan. Di sisi lain, daya tarik Premier League sebagai liga dengan gaji tertinggi membuat pemain-pemain top dunia—termasuk potensi diaspora Indonesia—lebih memilih bermain di Inggris. Hal ini bisa memperkuat kualitas timnas Indonesia jika pemain keturunan mendapat menit bermain di klub Premier League, namun juga meningkatkan persaingan untuk merekrut pemain naturalisasi.
Ke depan, UEFA dan Premier League sendiri tengah bersiap menghadapi perubahan aturan keuangan. Mulai Juli mendatang, Premier League akan menerapkan 'squad cost ratio' yang membatasi pengeluaran klub Eropa hingga 70% dari pendapatan, sementara klub non-Eropa bisa mencapai 115%. Aturan ini justru dikhawatirkan UEFA akan memperlebar jurang, karena klub Premier League yang tidak lolos Eropa bisa membelanjakan lebih banyak uang. "Ini indikatif dari jurang yang ada," kata Maguire. "Sebagian besar pemain asing kini memilih Inggris karena gaji yang ditawarkan."
Pertanyaan yang tersisa: akankah dominasi Premier League di kompetisi sekunder bertahan saat Europa League musim depan diikuti AC Milan, Juventus, Benfica, dan Bayer Leverkusen? Atau justru Arsenal akan membuktikan bahwa klub Inggris juga bisa menaklukkan panggung terbesar dengan mengalahkan PSG di final? Jawabannya akan menentukan apakah Premier League layak disebut sebagai kekuatan dominan sepak bola Eropa, atau sekadar 'flat-track bully' yang perkasa hanya di atas kertas.



