Pameran Isabella Bird Kembali Dibuka: Jejak Penjelajah Inggris di Jepang 148 Tahun Lalu
Baca dalam 60 detik
- Pameran permanen bahan sejarah Isabella Bird di Nanyo, Jepang, kembali dibuka setelah lima tahun hiatus.
- Koleksi terlengkap di Jepang ini menampilkan surat asli, foto, dan edisi pertama buku perjalanan Bird.
- Dibuka menjelang peringatan 150 tahun kunjungan Bird, pameran ini diharapkan menarik minat baru terhadap sejarah budaya.

Setelah ditutup selama lima tahun, pameran bahan-bahan sejarah yang berkaitan dengan Isabella Bird—penjelajah dan penulis asal Inggris—kembali dibuka di kota Nanyo, Prefektur Yamagata, Jepang. Pameran ini menjadi satu-satunya di Jepang yang menyajikan koleksi komprehensif mengenai perjalanan Bird pada tahun 1878, yang kini dihidupkan kembali untuk menyambut peringatan 150 tahun kedatangannya dua tahun mendatang.
Isabella Bird mendarat di Yokohama pada Mei 1878, lalu melintasi Nikko dan Niigata sebelum tiba di Komatsu (kini Kawanishi) pada 13 Juli tahun yang sama. Dalam perjalanannya, ia melewati jalur pegunungan bernama Jusan-toge yang terkenal berat, terutama saat musim hujan. Namun, pemandangan Cekungan Yonezawa yang membentang di bawah sinar matahari cerah membuatnya terpukau. Ia menyebut kawasan itu sebagai "taman Eden yang sempurna" dan "Arcadia Asia". Pujian ini kemudian diabadikan dalam berbagai acara peringatan di Yamagata pada setiap momentum besar kunjungannya.
Koleksi yang dipamerkan di fasilitas budaya Kurara ini mencakup edisi pertama buku perjalanannya, Unbeaten Tracks in Japan, fotografi, ilustrasi, pakaian perjalanan era Victoria, serta salinan surat tulisan tangan Bird kepada kepala penerbit di Inggris. Yang tak kalah menarik, terdapat dokumen aplikasi yang ditandatangani langsung oleh Bird. Menurut Mikiko Shimanuki dari divisi pariwisata dan industri Pemerintah Kota Nanyo, pihak kota pernah mengirim petugas ke Inggris untuk mengoleksi benda-benda bersejarah, termasuk surat dan artefak era Kekaisaran Britania.
Meski sudut Bird dikenal luas di kalangan akademisi dan penggemar sejarah, fasilitas sebelumnya—Hygeia Park Nanyo—mengalami penurunan pengunjung dan akhirnya tutup pada 2021. Seluruh koleksi pun disimpan dan tak bisa diakses selama bertahun-tahun. Kini, dengan mendekati peringatan 150 tahun, pemerintah kota memutuskan memindahkan koleksi ke Kurara. “Pameran saat ini masih sama seperti 30 tahun lalu. Kami ingin menambahkan temuan-temuan baru yang muncul sejak saat itu,” ujar Shimanuki.
Fenomena serupa sebenarnya bisa ditemukan di Indonesia, di mana jejak perjalanan para naturalis dan penjelajah Eropa—seperti Alfred Russel Wallace atau Junghuhn—sering dijadikan aset wisata sejarah. Namun, banyak situs yang belum dikelola secara terpadu atau hanya buka pada acara khusus. Pengalaman Nanyo menunjukkan bahwa komitmen jangka panjang dan peremajaan konten penting untuk menjaga daya tarik koleksi sejarah.
Ke depannya, pihak kota berencana memperbarui konten pameran dengan hasil riset terbaru serta memperluas jam buka. Dengan hanya tersisa dua tahun menuju peringatan 150 tahun, publik berharap pameran ini tidak hanya menjadi nostalgia, tetapi juga jembatan untuk memahami pertemuan budaya antara Jepang dan dunia Barat pada akhir abad ke-19.



