Ranieri Kembali ke Timnas Italia: Pensiun Lagi Tergoda di Usia 75
Baca dalam 60 detik
- Claudio Ranieri, hampir 75 tahun, ditunjuk sebagai technical director Timnas Italia setelah pensiun dua kali.
- Posisi baru ini dirancang untuk memperkuat identitas dan struktur jangka panjang sepak bola Italia dari akar rumput hingga tim senior.
- Pengalaman Ranieri di Leicester City dan banyak klub top Eropa menjadi modal untuk peran strategis ini.

Claudio Ranieri kembali menunda masa pensiunnya. Hampir berusia 75 tahun, pelatih yang membawa Leicester City juara Premier League 2016 itu kini resmi menjabat sebagai technical director Timnas Italia. Keputusan ini diumumkan oleh presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Giovanni Malagรฒ, bersamaan dengan kembalinya Roberto Mancini sebagai pelatih kepala.
Posisi technical director merupakan jabatan baru yang pertama kali dibuat pada musim panas ini. Selama 17 hari, posisi itu sempat diisi Paolo Maldini sebelum akhirnya diberikan kepada Ranieri. Tugas utama peran ini adalah mengawasi seluruh struktur kepelatihan di Italia, mulai dari tim senior, tim junior, hingga akademi di seluruh negeri.
FIGC menciptakan posisi ini untuk memberikan identitas yang lebih kuat dan struktur jangka panjang bagi Nazionale. Dengan adanya technical director, diharapkan filosofi permainan tetap konsisten meski terjadi pergantian pelatih. Ini adalah model yang sudah diterapkan banyak negara sepak bola maju, seperti Jerman dan Prancis.
Karier kepelatihan Ranieri dimulai pada 1986 bersama Vigor Lamezia. Ia kemudian menukangi berbagai klub besar Eropa seperti Valencia, Atletico Madrid, Chelsea, Juventus, Inter, dan AS Monaco. Puncaknya adalah bersama Leicester City pada 2016, ketika ia mempersembahkan gelar Premier League yang tak terduga. Trofi itu dianggap sebagai kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris. Ranieri juga pernah menangani tim nasional Yunani pada 2014, namun hanya bertahan empat laga setelah kalah 1-0 dari Kepulauan Faroe di kandang.
Keputusan Ranieri menerima peran ini lagi menunjukkan loyalitasnya terhadap sepak bola Italia. Dalam pernyataannya, ia mengaku terpanggil oleh rasa tanggung jawab untuk membangun kembali fondasi sepak bola Italia yang sempat goyah. Bagi pengamat, langkah FIGC ini cerdas: menggabungkan pengalaman ekstensif Ranieri dengan visi jangka panjang. Namun tantangan nyata adalah bagaimana menyelaraskan visi teknis dengan dinamika kepelatihan di level klub.
Bagi Indonesia, langkah ini bisa menjadi pelajaran berharga. Sepak bola Indonesia masih berjuang membangun sistem pembinaan yang terstruktur. Kehadiran figur seperti Ranieri yang menjembatani tim senior dengan akademi bisa menjadi model yang patut ditiru. Direktur teknis PSSI, misalnya, bisa mengambil inspirasi dari peran Ranieri untuk menciptakan sinergi antara pelatih timnas dan pengembangan pemain muda.
Ranieri mungkin sudah mendekati usia senja, tetapi semangat dan dedikasinya belum pudar. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah ia membangun fondasi yang membuat Italia kembali berjaya di panggung dunia, atau akan menjadi episode pendek lagi dalam kisah pensiunnya yang tak pernah tuntas?



