Guncangan di Dunia Riset: Ilmuwan Bicara soal Dampak Pemotongan Dana Penelitian AS
Baca dalam 60 detik
- Pemerintahan Trump menghentikan hampir 800 hibah NIH dan mengancam pemotongan anggaran hingga 40%, memicu kekhawatiran luas di kalangan peneliti.
- Tiga ilmuwan dari AS dan Afrika Selatan mengungkapkan bagaimana pemutusan dana secara mendadak menghentikan proyek penting, termasuk riset Alzheimer dan HIV.
- Pemotongan ini tidak hanya merugikan institusi AS tetapi juga menghambat kolaborasi global dan memperlambat penemuan ilmiah di berbagai bidang.

Kebijakan pemotongan dana penelitian oleh pemerintahan Trump telah mengguncang komunitas akademik global. National Institutes of Health (NIH), lembaga dengan anggaran tahunan US$47 miliar, telah menghentikan hampir 800 hibah dan mempertimbangkan pemotongan anggaran keseluruhan hingga 40%. Tiga ilmuwan yang terdampak langsung berbagi pengalaman mereka dalam podcast The Conversation Weekly.
Sunghee Lee, profesor riset di University of Michigan, menerima email pada 21 Maret yang memberitahukan bahwa hibah senilai US$5 juta untuk penelitian Alzheimer miliknya dihentikan. Proyek yang baru dimulai tahun 2024 itu bertujuan mengkaji faktor risiko Alzheimer di semua kelompok ras dan etnis di AS. Surat pemutusan menyebut studi tersebut sebagai bagian dari program diversity, equity, and inclusion (DEI) yang dinilai tidak lagi sejalan dengan prioritas pemerintah. “Studi kami mencakup semua orang,” ujar Lee. “Jika meneliti semua orang dianggap sebagai studi DEI, maka hampir semua pengumpulan data di negeri ini harus diklasifikasikan demikian dan dihentikan.”
Brady West, kolega Lee di universitas yang sama, mengalami nasib serupa beberapa pekan sebelumnya. Aksesnya ke pusat data riset federal dicabut, dan proyek yang mengukur kesenjangan kesehatan berdasarkan identitas seksual dianggap tidak mematuhi perintah eksekutif terbaru. West menjelaskan bahwa proses perolehan hibah dari NIH bisa memakan waktu hingga dua tahun, melibatkan peninjauan ketat oleh panel ahli. “Kesalahpahaman besar adalah anggapan bahwa pemerintah memilih mendanai riset berdasarkan topik yang dianggap penting,” katanya. “Kenyataannya tidak demikian.”
Dampak pemotongan juga terasa di Afrika Selatan, di mana ketegangan diplomatik dengan AS turut mempengaruhi pendanaan riset. Glenda Gray, profesor di University of Witwatersrand dan pejabat utama ilmiah di Medical Research Council Afrika Selatan, kehilangan proyek vaksin HIV senilai US$46 juta yang didanai USAID pada Januari lalu. Pada pertengahan April, pendanaan untuk unit uji klinis di Soweto yang terlibat dalam uji coba vaksin HIV ditandai sebagai “tertunda”. Empat jaringan riset global pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS yang berafiliasi dengan unit tersebut juga dilarang membelanjakan dana di Afrika Selatan.
Gray menekankan bahwa pendanaan yang diperoleh melalui proses kompetitif global itu “tidak tergantikan” dan akan berdampak drastis pada riset HIV. “Pada dasarnya, kita kehilangan pengetahuan atau nilai pemahaman tentang pencegahan HIV, vaksin HIV, atau terapi. Kami memiliki infrastruktur, beban penyakit, dan kemampuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini,” ujarnya. “Tanpa keterlibatan Afrika Selatan, proses penemuan akan melambat secara signifikan.”
Pemotongan dana penelitian ini menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan kolaborasi ilmiah global. Dengan hilangnya pendanaan yang stabil, proyek-proyek jangka panjang terancam mandek, dan para peneliti muda mungkin enggan menekuni karier di bidang sains. Ke depan, komunitas riset internasional perlu mencari alternatif pendanaan dan memperkuat kemitraan lintas batas untuk menjaga momentum penemuan ilmiah.


